Politik Dewa Janus

 Politik Dewa Janus


Oleh: Hamsyah

Dalam mitologi Yunani, Janus digambarkan sebagai dewa bermuka dua yang menghadap kearah  yang berlawanan. Satu muka menunjukan optimisme, harapan perubahan dan masa depan. Satu mukanya lagi  menunjukkan pesimisme, keraguan dan kesuraman yang menimbulkan situasi tidak menyenangkan. Dua realitas yang akan menampilkan paradoks mengenai situasi politik.

Adalah  yang lebih sulit memberikan definisi yang tepat bagi istilah ‘politik’. Kata ‘politk’, di pihak lain adalah sangat tua dan ada dalam kosa kata setiap orang. Ia menembusi waktu dan karna seringnaya dipakai, dia menjadi samar-samar dan umum.

Pandangan individu atau kelompok dalam memberikan definisi bagi istilah ‘politik’ tergantung pada pandangan epistemologinya yang nantinya akan mencipatkan ideologi mereka masing-masing. Ideologi adalah rumusan alam pikiran yang terdapat diberbagai subjek atau kelompok masyarakat yang ada yang kemudian dijadikan dasar untuk direalisasikan. Ideologi juga memiliki arti konsepsi, termasuk konsepsi manusia mengenai politik, sosial, ekonomi dan kebudayaan untuk diterapkan dalam suatu masyarakat atau negara.

Sejak manusia pertama kali berpikir tentang politik, mereka terombang ambing di antara dua interpretasi yang saling bertentangan secara diametrik. Bagi sebagian orang, politik secara hakiki adalah pergolakan pertempuran. Kekuasaan memungkinkan kelompok-kelompok dan individu-individu yang memegangnya untuk memepertahankan dominasinya terhadap masyarakat dan untuk mengeksploitirnya, sedangkan kelompok dan individu lain menentang dominasi dan eksploitasinya dengan berusaha melawan dan membinasakannya. Tafsiran politik yang lain menganggap bahwa politik sebagai suatu usaha untuk menegakkan ketertiban dan keadilan.

Kekuasaan melindungi kemakmuran umum dan kepentingan umum (common good) dari tekanan dan tuntutan kelompok-kelompok kepentingan yang khusus. Bagi yang pertama politik bertugas untuk mempertahankan hak-hak istimewa suatu minoritas terhadap mayoritas. Bagi yang kedua, dia adalah alat untuk mengintegrasikan setiap orang ke dalam komunitas dan menciptakan  “kota adil” yang dibicarakan Aristotoles.

Penganutan kepada suatu pandangan atau yang lain sebagian ditentukan oleh status sosial seseorang. Individu-individu dan kelas-kelas tertindas, orang-orang miskin, dan orang-orang malang, dan yang tidak puas setuju bahwa kekuasaan menjamin ketertiban, akan tetapi hanyalah karikatur tentang ketertiban, yang menyembunyikan dominasi pemegang hak istimewa yang sedikit jumlahnya. Bagi orang-orang ini politik adalah perjuangan/pergolakan individu-individu dan kelompok-kelompok yang aman, makmur, dan puas mendapatkan bahwa masyarakat harmonis dan bahwa kekuasaan mempertahankan ketertiban sosial yang sah. Bagi mereka, politik adalah integrasi.

Akhirnya, adalah hakikat politk, artinya yang sesungguhnya, bahwa politik senantiasa ambivalen. Dewa Janus yang bermuka dau adalah citra yang benar dari kekuasaan dan mengungkapkan kebenaran politik paling dalam. Negara dan atas  cara yang lebih umum, kekuasaan institusional dari masyarakat dalam setiap saat dan setiap tempat adalah alat dominasi sekelompok tertentu atas kelompok yang lain, diperguanakan oleh yang disebut pertama demi keuntungan sendiri dan demi kerugian beberapa yang lain. Pada saat yang sama, dia juga alat menjamin ketertiban sosial tertentu, sejenis integrasi dari semua orang di dalam komunitas demi kepentingan umum.

Paham bahwa politk mencakup baik konflik antara individu-individu dan kelompok untuk memperoleh kekuasaan, yang dipergunakan bagi pemenangnya sendiri atas kerugian yang ditaklukan, maupun usaha untuk menegakkan ketertiban sosial yang berguna bagi semua orang.

Penyebab konflik lain dari konflik politik ialah sifat atau pandangan rasialis yang muncul dalam berbagai corak dan warna. Dalam hal ini pandangan ini kadang-kdang didukung pula oleh berbagi teori yang mengemukakan bahwa ras-ras tertentu adalah lebih rendah kualitasnya dari yang lain. Umpamanya, teori-teori tentang ras-ras kulit berwarna dianggap lebih rendah keterampilan, aptitude atau kecerdasannya dibanding dengan ras kulit putih. Pandangan serta teori-teori itu dengan sendirinya merupakan salah satu biang antagonisme politik, karna ia dapat melahirkan sikap mengaggap rendah atau angkuh yang selanjutnya menjurus pada saling antipati.

Bagaimana menyelesaikan konflik? Salah satu caranya ialah melalui kekerasan bersenjata seperti perang, pemberontakan atau revolusi. Adapun politik dalam menyelesaikan konflik tanpa atau kurang kekerasan bersenjata untuk menciptakan integrasi yaitu dengan kompromi. Kita perlu memahami arti sesungguhnya dari kata kompromi, karna kata kompromi ini kadang-kadang mempunyai kaitan pengertian yang jelek dalam kehidupan politik suatu masyarakat.

Dalam ilmu politik, dalam hal ini ilmu kekuasaan, kompromi merupakan suatu konsep yang dipakai buat menjelaskan bagaimana konflik-konflik politik dapat diselesaikan. Dalam penyelasian konflik secara kompromi, hal ini biasanya dapat dilihat dalam mekanisme diskusi, depat, dan acara agar pendapat yang memungkinkan masing-masing pihak yang berkepentingan untuk menyampaikan argumentasinya, dan juga mendegarkan atau memahami argumentasi pihak-pihak lain. Dengan begitu semua pihak akan saling memahami betapa bercorak ragam dan kompleksnya kepentingan-kepentingan yang terlibat di dalamnya.

Barangkali apa yang baru saja di uraikan secara sepintas ini akan semakin jelas bagi kita apa yang sebenarnya yang dimaksudkan oleh Duverger dengan konsep politik atau kekuasan yang di ungkapkannya sebagai Dewa Janus yang bermuka dua. Konflik dan integrasi adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan dari politik. Keduanya saling berkaitan dan akan selalu ada.

Referensi:

Duverger, M. (2010). SOSIOLOGI POLITIK. Jakarta: PT RajaGrafindoPersada.

Nur Sayyid Kriteva, S. M. (2010). SEJARAH IDEOLOGI DUNIA. Yogyakarta: INPHISOOS.

https://www.uinjkt.ac.id/wajah-janus-tahun-2023/


Komentar

Postingan Populer