Politik Dewa Janus
Politik Dewa Janus
Dalam
mitologi Yunani, Janus digambarkan sebagai dewa bermuka dua yang menghadap kearah yang berlawanan. Satu muka menunjukan
optimisme, harapan perubahan dan masa depan. Satu mukanya lagi menunjukkan pesimisme, keraguan dan kesuraman
yang menimbulkan situasi tidak menyenangkan. Dua realitas yang akan menampilkan
paradoks mengenai situasi politik.
Adalah yang lebih sulit memberikan definisi yang
tepat bagi istilah ‘politik’. Kata ‘politk’, di pihak lain adalah sangat tua
dan ada dalam kosa kata setiap orang. Ia menembusi waktu dan karna seringnaya
dipakai, dia menjadi samar-samar dan umum.
Pandangan
individu atau kelompok dalam memberikan definisi bagi istilah ‘politik’
tergantung pada pandangan epistemologinya yang nantinya akan mencipatkan
ideologi mereka masing-masing. Ideologi adalah rumusan alam pikiran yang
terdapat diberbagai subjek atau kelompok masyarakat yang ada yang kemudian dijadikan
dasar untuk direalisasikan. Ideologi juga memiliki arti konsepsi, termasuk
konsepsi manusia mengenai politik, sosial, ekonomi dan kebudayaan untuk
diterapkan dalam suatu masyarakat atau negara.
Sejak
manusia pertama kali berpikir tentang politik, mereka terombang ambing di
antara dua interpretasi yang saling bertentangan secara diametrik. Bagi
sebagian orang, politik secara hakiki adalah pergolakan pertempuran. Kekuasaan
memungkinkan kelompok-kelompok dan individu-individu yang memegangnya untuk
memepertahankan dominasinya terhadap masyarakat dan untuk mengeksploitirnya,
sedangkan kelompok dan individu lain menentang dominasi dan eksploitasinya
dengan berusaha melawan dan membinasakannya. Tafsiran politik yang lain menganggap
bahwa politik sebagai suatu usaha untuk menegakkan ketertiban dan keadilan.
Kekuasaan
melindungi kemakmuran umum dan kepentingan umum (common good) dari
tekanan dan tuntutan kelompok-kelompok kepentingan yang khusus. Bagi yang
pertama politik bertugas untuk mempertahankan hak-hak istimewa suatu minoritas
terhadap mayoritas. Bagi yang kedua, dia adalah alat untuk mengintegrasikan
setiap orang ke dalam komunitas dan menciptakan
“kota adil” yang dibicarakan Aristotoles.
Penganutan
kepada suatu pandangan atau yang lain sebagian ditentukan oleh status sosial seseorang.
Individu-individu dan kelas-kelas tertindas, orang-orang miskin, dan
orang-orang malang, dan yang tidak puas setuju bahwa kekuasaan menjamin
ketertiban, akan tetapi hanyalah karikatur tentang ketertiban, yang
menyembunyikan dominasi pemegang hak istimewa yang sedikit jumlahnya. Bagi
orang-orang ini politik adalah perjuangan/pergolakan individu-individu dan
kelompok-kelompok yang aman, makmur, dan puas mendapatkan bahwa masyarakat
harmonis dan bahwa kekuasaan mempertahankan ketertiban sosial yang sah. Bagi
mereka, politik adalah integrasi.
Akhirnya,
adalah hakikat politk, artinya yang sesungguhnya, bahwa politik senantiasa
ambivalen. Dewa Janus yang bermuka dau adalah citra yang benar dari kekuasaan
dan mengungkapkan kebenaran politik paling dalam. Negara dan atas cara yang lebih umum, kekuasaan institusional
dari masyarakat dalam setiap saat dan setiap tempat adalah alat dominasi
sekelompok tertentu atas kelompok yang lain, diperguanakan oleh yang disebut pertama
demi keuntungan sendiri dan demi kerugian beberapa yang lain. Pada saat yang
sama, dia juga alat menjamin ketertiban sosial tertentu, sejenis integrasi dari
semua orang di dalam komunitas demi kepentingan umum.
Paham
bahwa politk mencakup baik konflik antara individu-individu dan kelompok untuk
memperoleh kekuasaan, yang dipergunakan bagi pemenangnya sendiri atas kerugian
yang ditaklukan, maupun usaha untuk menegakkan ketertiban sosial yang berguna
bagi semua orang.
Penyebab
konflik lain dari konflik politik ialah sifat atau pandangan rasialis yang
muncul dalam berbagai corak dan warna. Dalam hal ini pandangan ini kadang-kdang
didukung pula oleh berbagi teori yang mengemukakan bahwa ras-ras tertentu
adalah lebih rendah kualitasnya dari yang lain. Umpamanya, teori-teori tentang
ras-ras kulit berwarna dianggap lebih rendah keterampilan, aptitude atau
kecerdasannya dibanding dengan ras kulit putih. Pandangan serta teori-teori itu
dengan sendirinya merupakan salah satu biang antagonisme politik, karna ia
dapat melahirkan sikap mengaggap rendah atau angkuh yang selanjutnya menjurus
pada saling antipati.
Bagaimana
menyelesaikan konflik? Salah satu caranya ialah melalui kekerasan bersenjata
seperti perang, pemberontakan atau revolusi. Adapun politik dalam menyelesaikan
konflik tanpa atau kurang kekerasan bersenjata untuk menciptakan integrasi yaitu
dengan kompromi. Kita perlu memahami arti sesungguhnya dari kata kompromi,
karna kata kompromi ini kadang-kadang mempunyai kaitan pengertian yang jelek
dalam kehidupan politik suatu masyarakat.
Dalam
ilmu politik, dalam hal ini ilmu kekuasaan, kompromi merupakan suatu konsep
yang dipakai buat menjelaskan bagaimana konflik-konflik politik dapat
diselesaikan. Dalam penyelasian konflik secara kompromi, hal ini biasanya dapat
dilihat dalam mekanisme diskusi, depat, dan acara agar pendapat yang
memungkinkan masing-masing pihak yang berkepentingan untuk menyampaikan
argumentasinya, dan juga mendegarkan atau memahami argumentasi pihak-pihak
lain. Dengan begitu semua pihak akan saling memahami betapa bercorak ragam dan
kompleksnya kepentingan-kepentingan yang terlibat di dalamnya.
Barangkali
apa yang baru saja di uraikan secara sepintas ini akan semakin jelas bagi kita
apa yang sebenarnya yang dimaksudkan oleh Duverger dengan konsep politik atau
kekuasan yang di ungkapkannya sebagai Dewa Janus yang bermuka dua. Konflik dan
integrasi adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan dari politik. Keduanya
saling berkaitan dan akan selalu ada.
Duverger, M. (2010). SOSIOLOGI POLITIK.
Jakarta: PT RajaGrafindoPersada.
Nur Sayyid Kriteva, S. M. (2010). SEJARAH IDEOLOGI DUNIA. Yogyakarta: INPHISOOS.




Komentar
Posting Komentar