Relevansi Being Mode dalam Spiritualitas Islam: Corak Pengaderan HMI Di Zaman Industrial Kapitalistik

 

Relevansi Being Mode dalam Spiritualitas Islam: Corak Pengaderan HMI Di Zaman Industrial Kapitalistik

Oleh: Faris Al Fajri

Identitas Buku

Judul buku         : Mempunyai atau Mengada

Penulis               : Erich Fromm

Penerjemah        : Aquarina Kharisma Sari

Penerbit              : IRCiSoD

Tahun Terbit       : 2019

Tebal                   : 312 halaman

ISBN                  : 9786237378099

"To Be or to Have" adalah sebuah buku yang ditulis oleh Erich Fromm, seorang psikoanalis dan filsuf sosial terkenal. Buku ini menyajikan sebuah analisis mendalam tentang konsep manusia dalam menghadapi kehidupan, di mana Fromm mempertimbangkan pertentangan antara memiliki (to have) dan menjadi (to be). Dalam buku ini, Fromm mengajukan pertanyaan mendasar tentang tujuan hidup dan makna kebahagiaan. Ia berpendapat bahwa masyarakat modern telah terjebak dalam budaya konsumerisme yang memandang kekayaan materi dan kepemilikan sebagai ukuran kesuksesan dan kebahagiaan. Fromm menantang pandangan ini dengan menunjukkan bahwa kepemilikan materi tidak dapat memberikan kepuasan dan memenuhi kebutuhan emosional yang lebih dalam. Melalui analisis yang kritis dan filsafat psikologis, Fromm mengemukakan bahwa manusia seharusnya lebih fokus pada perkembangan diri dan pemenuhan kebutuhan spiritual. Ia berpendapat bahwa kehidupan yang bermakna dan memuaskan terjadi ketika seseorang dapat menggali potensi diri, mengembangkan hubungan yang bermakna dengan orang lain, dan menemukan tujuan hidup yang sesuai dengan nilai-nilai pribadi.

Buku ini juga membahas mengenai konflik antara kebebasan dan keterikatan. Fromm berpendapat bahwa masyarakat modern sering kali merasa terikat oleh tuntutan ekonomi dan budaya, yang membatasi kebebasan individu. Ia mengajak pembaca untuk mengkaji ulang nilai-nilai dan norma-norma yang mereka anut, serta mencari kebebasan yang sejati dengan memilih untuk menjadi diri mereka yang sebenarnya. "To Be or to Have" memberikan pemikiran yang mendalam tentang hakikat manusia, mengajak pembaca untuk merenungkan tentang arti hidup dan nilai-nilai yang sesungguhnya. Dalam tulisan ini, Fromm menantang pandangan materialistik dalam masyarakat modern, menekankan pentingnya pengembangan diri dan hubungan yang bermakna, serta mengajak pembaca untuk memilih menjadi diri yang sejati.

Indonesia dewasa ini dalam visi 2045-nya mengarah pada masyarakat industri yang kapitalistik yang cenderung mendasarkan kehidupan pada konsumsi yang maksimal. Konsumsi maksimal ini tentu saja tidak ada batasnya. Sedang kemampuan sumber alam untuk dapat memberikan bahan kebutuhan ini mempunyai keterbatasan. Pengejaran konsumsi secara maksimal ini akan mendorong pada terjadinya kerusakan lingkungan hidup manusia, dan lebih jauh akan menghancurkan sendi - sendi kelangsungan hidup manusia. Kebutuhan hidup bukan lagi sebagai kebutuhan yang valid (benar) objektif, melainkan lebih cenderung menjadi kebutuhan dirasakan secara subjektif. Kebutuhan dalam bentuk terakhir ini akan membahayakan bagi pertumbuhan masyarakat Indonesia.

Dampak kehidupan masyarakat industri akan mempengaruhi perilaku orang dan lebih jauh akan mempengaruhi perangainya (karakternya). Egoisme berkembang, menjadi  karakter masyarakat industri kapitalistik. Egoisme berarti bahwa orang (saya) menginginkan semua untuk dirinya (diri saya). Egoisme berarti memiliki bukan memberi, yaitu memiliki sesuatu yang memberi kepuasan. Begitu orang akan menjadi tamak sebab tujuannya adalah memiliki, dan orang menjadi antagonistik dengan orang lain yang melihat orang lain sebagai objek yang dapat diperas, atau dimangsa untuk mengejar kepuasannya. Namun demikian, orang tidak akan menjadi puas karena tidak ada akhir dari kepuasan. Orang menjadi cemburu pada orang lain yang memiliki lebih dan menjadi takut terhadap orang lain yang miskin. Akan tetapi, orang harus berpura-pura menyembunyikan semua perasaan itu dan berbuat secara tegar seolah seperti manusia yang baik, rasional, dan bijak.

Karakter masyarakat yang bersifat tamak, egoisme, dan mementingkan diri sendiri adalah sebagai hasil dari lingkungan sosial. Dalam uraian Yuval Noah Harari dalam bukunya Sapiens, secara umum karakter masyarakat primitif tidaklah bersifat tamak dan mementingkan dirinya sendiri. Akan tetapi, dalam masyarakat industri di mana mesin ekonomi dipandang sebagai wujud yang mandiri, perkembangannya ditentukan oleh hukumnya sendiri (hukum ekonomi) maka menyebabkan perkembangan perilaku ekonomi menjadi terpisah dari etika dan nilai-nilai kemanusiaan. Penderitaan buruh dan kehancuran industri kecil untuk memberi kesempatan berkembang-nya industri raksasa dipandang sebagai kepentingan ekonomi dan ini seolah-olah harus diterima sebagai hasil dari hukum ekonomi. Dalam sistem ekonomi semacam itu manusia menjadi sub-ordinate dari sistem ekonomi dan politik. Manusia menjadi menyerah pada hukum ekonomi dan menjadi sekedar instrumen bagi mekanisme ekonomi dan politik. Etika kemanusiaan menjadi tidak mampu mengontrol mekanisme ekonomi. Pertanyaan yang timbul bukan lagi apa yang baik bagi manusia? Akan tetapi, pertanyaannya menjadi apa yang baik bagi pertumbuhan sistem (ekonomi)? Mungkin asumsi yang menyertai adalah bahwa perkembangan yang baik bagi sistem ekonomi akan berarti juga baik bagi manusia. Kenyataan dalam sistem ekonomi industrial yang berkembang menjadi raksasa, yang secara ekonomi membawa keuntungan besar, mendorong manusia menjadi berkarakter tamak, egoisme, dan mementingkan diri sendiri. Terdapat rasionalisasi dari masyarakat industri yang seolah-olah menolak pandangan bahwa karakter tamak dan egoisme itu merupakan produk sistem ekonomi, tetapi memandang itu sebagai sifat alami manusia.

Dari uraian di atas menampilkan argumen bahwa sifat karakter manusia dihasilkan oleh suatu sistem ekonomi. Perilaku ekonomi kita akan menghasilkan masyarakat yang tidak sehat dan juga manusia yang sakit. Melihat problematika bangsa yang kompleks seperti itu, kader HMI dengan spirit kebangsaan dan keislaman memiliki tanggung jawab moral dan sejarah terhadap keberlangsungan bangsa Indonesia agar mampu menjadi negara yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur. Saya menawarkan Modus eksistensi mengada (being mode) yang di gagas oleh Erich Fromm dalam penelitian psikoanalisis radikal-humanisnya dan sebagai langkah solutif menciptakan corak pengaderan dalam HMI guna membangun masyarakat yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur.

Dalam gagasan Erich Fromm menjelaskan modus mengada, Fromm membedakan modus ini dengan modus memiliki (having mode) yang cenderung dimiliki oleh masyarakat industri kapitalistik. Perbedaan modus memiliki dan modus mengada (perkembangan mengada diri) tidak menunjukkan pada pengertian umum. Memiliki adalah fungsi normal dari kehidupan kita supaya hidup kita harus memiliki benda (harta). Memiliki harta dalam batas normal untuk memenuhi kebutuhan hidup adalah wajar bagi kelangsungan hidup manusia dan bagi perkembangan dirinya. Akan tetapi lebih dari itu, dalam budaya di mana tujuan kehidupan untuk memiliki, memiliki lebih banyak dan lebih banyak lagi, maka nilai manusia akan ditentukan dari jumlah pemilikan benda, seolah olah jika seseorang tidak memiliki harta maka nilai dirinya menjadi tidak ada. Modus memiliki merupakan modus ketamakan untuk mengkonsumsi (makan) dan memiliki benda.

Karakter memiliki yang dimanifestasikan individu adalah menguasai objek dan karena menguasai objek maka berarti mencabut hak hidup dari objek tersebut. Oleh karena itu, karakter memiliki berarti terdapat konotasi destruktif, yaitu menghancurkan sesuatu yang hidup dan memperlakukan seperti objek mati. Misalnya, jika kita melihat suatu bunga yang indah yang hidup bebas dalam ladang terbuka, kemudian kita mencabut batang dan akar bunga tersebut, maka di sini terdapat konotasi destruktif terhadap kehidupan bunga tersebut. Untuk menikmati keindahan bunga itu maka cara yang dilakukan adalah destruktif dengan mencabut akar bunga itu, sehingga mematikan kehidupan bunga tersebut. Ini merupakan manifestasi karakter memiliki. Mobil sebagai objek pemilikan mungkin tidak banyak menimbulkan masalah karena mobil adalah benda mati yang seolah-olah tidak memiliki hak untuk mempertahankan eksistensinya. Akan tetapi, wanita, anak, atau pun kader sebagai objek pemilikan tentu akan menimbulkan masalah sebab jika menjadikan wanita, anak, dan kader sebagai objek pemilikan berarti melakukan tindakan destruktif terhadap hak eksistensi sebagai pribadi atau sebagai manusia yang memiliki kemerdekaan.

Menjaga dalam kebersamaan, dan karena itu karakter mengada terdapat konotasi memelihara dan mendorong kehidupan, menghormati eksistensi setiap individu dan kemerdekaannya. Dalam karakter mengada ini tidak terdapat konotasi menghancurkan atau mematikan, sebaliknya yang ada adalah konotasi menghidupkan. Jika kita berjalan di suatu ladang terbuka dan kemudian menyaksikan bunga indah yang sedang mekar secara bebas, kita menjadi senang menyaksikan keindahan bunga yang tumbuh bebas itu. Kesenangan kita tidak mengusik kehidupan dan kemerdekaan bunga itu, tetapi kesenangan dalam kedekatan dan kebersamaan dengan bunga yang indah itu. Kita tidak mencabut akar dan batang bunga yang akan menyebabkan kematiannya, tetapi menjaga bunga tersebut agar tetap hidup dan menampilkan keindahannya. Kita secara terus menerus dapat menyaksikan dan memperoleh kegembiraan hati dengan melihat bunga yang indah itu hidup dengan kodrat alaminya adalah contoh karakter mengada.

Fromm dalam membangun konsep "being mode" mempergunakan pandangan keagamaan, seperti etika atau ajaran Budha, kitab perjanjian lama, dan terutama yang ingin saya bahas lebih banyak yaitu ajaran Islam. Ajaran Budha bahwa untuk dapat hidup yang baik, manusia harus meninggalkan kehidupan duniawi yang materialistik dan hidup sebagai petapa. Hal yang sama dalam ajaran Kristus yang menekankan pengorbanan diri demi kesejahteraan orang lain, sebagaimana Kristus menerima kematian dirinya demi membawa keselamatan orang lain. Ajaran semacam ini mengandung suatu pengorbanan total yang mungkin hanya dapat dikerjakan oleh orang pilihan seperti Nabi. Bagi orang biasa, bagi rasionalitas dan intelektual dewasa ini tentu agak sulit untuk mewujudkan. Dalam ajaran Islam, kehidupan yang harmonis antara kehidupan material dan spiritual, antara kehidupan dunia dan akhirat adalah merupakan dasar bagi kehidupan yang penuh dengan iman dan ketaqwaan. Islam lebih realistis dalam memandang materi sebab Islam tidak menganjurkan untuk meninggalkan material. Untuk hidup dan pengembangan diri manusia tetap membutuhkan materi, pemilikan benda dan kekayaan. Bahkan Nabi menganjurkan umat untuk bekerja keras seolah-olah kita akan hidup terus, dan melakukan ibadah seolah-olah kita akan meninggal esok. Namun juga terdapat konsep dalam Islam bahwa harta, milik adalah sebagai titipan (titipan Yang Maha Kuasa). Ini berarti bahwa orang yang memiliki sebenarnya mereka tidak memiliki sebab mereka hanya menerima titipan. Kekayaan seperti harta, istri, anak, kedudukan, kesehatan, penghargaan, bahkan hidupnya sendiri sewaktu-waktu dapat hilang. Apa yang menjaga kemuliaan orang pada dasarnya adalah ketaqwaan. Konsep kepemilikan sebagai titipan pada dasarnya mengandung prinsip: 1) harta milik tidak bersifat kekal, 2) harta milik sewaktu-waktu dapat hilang 3) orang harus menerima dengan tabah (tidak boleh takut) jika terjadi perubahan, 4) orang harus memelihara sebaik-baiknya titipan (milik) yang telah dipercayakan pada dirinya, 5) orang harus lebih mementingkan pengembangan kualitas kehidupan, yaitu ketaqwaan. Jika kita berfikir semacam itu, maka dalam ajaran Islam sendiri merealisasikan suatu modus "being" sebagai modus eksistensinya, bukan modus "having".

Modus "being" dalam proses membina kader tentu merupakan konsep pengaderan yang lebih manusiawi, sedangkan modus "having" lebih mendorong proses pengaderan yang kurang manusiawi yang mungkin bersifat represif. Untuk mengembangkan kader HMI dengan semangat ke-Islaman dan ke-Indonesiaan yang produktif guna mewujudkan cita-cita HMI maka dalam proses membina kader harus dikembangkan dalam modus "being", karena ketika menggunakan modus "having" terdapat kontradiksi terhadap tujuan yang melekat pada tubuh HMI itu sendiri. Sebagaimana kader HMI seharusnya mempunyai keinginan dalam dan inheren untuk menjadi manusia aktif, merealisasi bawaan, berhubungan dengan orang lain, membebaskan diri dari belenggu ketamakan. Doktrin seperti ini mendorong dari lubuk hati seorang kader untuk hidup dengan harmonis dengan lingkungannya, kerjasama, saling membantu satu dengan lainnya, bukan dorongan egoisme dan keserakahan. Hal ini dapat mewujudkan kader yang sehat yang dimana kader HMI sebagai salah satu harapan bangsa dan agama yang dapat mewujudkan cita-cita HMI karena dalam menetapkan dan memutuskan tentang hakikat tujuan yang ingin dicapai sangat dibutuhkan kader yang berkualitas dengan kondisi psikologis yang tidak berkontradiksi dengan hakikat tujuan HMI. Posisi kader ditetapkan dalam pengaturan kerja untuk membantu organisasi sub-unit dalam mencapai tujuan keberadaannya pada sistem yang lebih besar.

Persoalannya adalah bagaimana menghidupkan dorongan lubuk hati ini sehingga kader berkembang menjadi dirinya yang manusiawi dan jauh dari sifat ketamakan dan egoisme sebagai hasil produk dalam sistem industri kapitalistik dewasa ini. Kehidupan yang berkembang dengan dasar ketamakan dalam masyarakat industri yang menghambat pertumbuhan kualitas kader yang manusiawi. Oleh karena perubahan kehidupan masyarakat, menggantikan pola kehidupan yang berorientasi memiliki dengan orientasi mengada adalah suatu tuntutan dan tugas membina kader, jauh dari itu adalah tugas kemanusiaan.

Komentar

Postingan Populer