PENDIDIKAN UNTUK PEMBEBASAN

 

PENDIDIKAN UNTUK PEMBEBASAN

Oleh: Nirmala

“Nenek ingin aku memperoleh pendidikan, karenanya dia melarangku sekolah”

Di atas merupakan secuil ungkapan dari Margaret Mead dalam buku Sekolah Kapitalisme Yang Licik: Dialog Bareng Paulo Freire. Sementara itu dalam Deschooling Society, Ivan Illich berpandangan bahwa sekolah dan pendidikan adalah dua hal yang berbeda, yang mana hal tersebut dapat kita lihat pada fakta bahwa ijazah dan kemampuan merupakan dua hal yang tak sama. Selaras dengan ungkapan dari Illich, Tan Malaka juga berpandangan bahwa “ijazah hanyalah kemungkinan adanya kecakapan”.

Seperti yang sering kita dengar dari mereka yang telah berpengalaman, pendidikan merupakan harga mati untuk perkembangan bangsa dan Negara. Tetapi, melihat realitas pendidikan saat ini dimana pendidikan dengan paham kapitalisme membuat pendidikan berubah haluan menjadi tidak seperti yang seharusnya. Pendidikan yang seharusnya digunakan sebagai wahana pembebasan yang memerdekakan kini malah menjadi kerangkeng dalam berkehidupan.

Kapitalisasi sistem pendidikan merupakan dampak dari kebijakan pemerintah yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Perguruan Tinggi, aturan tersebut menjadi awal dari perubahan status universitas menjadi badan hukum otonom yang mengharuskan kampus mencari dana untuk membiayai dirinya sendiri. Pemberlakuan aturan baru tersebut tentunya berdampak langsung pada mahasiswa dimana adanya pemberlakuan uang kuliah tunggal oleh universitas. Sehingga Pada akhirnya, hanya mereka dari kalangan atas yang memiliki kesempatan lebih besar untuk memegang “ijazah”. Dan ini tentu saja berimplikasi bagi kemapanan status sosial dalam sebuah masyarakat yang sangat mengedepankan formalitas.

Dalam pandangan Illich, lembaga pendidikan pada dasarnya berfungsi untuk memperkuat struktur kaum atas yang telah mapan, oleh sebab itu Illich menyarankan agar semua sistem kelembagaan sekolah dihapuskan saja. Hal ini senada dengan pendapat Paulo Freire bahwa pendidikan dengan struktur institusionalnya hanya merupakan alat untuk menyebarluaskan penindasan terhadap rakyat kecil. Penindasan melalui sistem pendidikan sehingga rakyat kecil kehilangan kesadaran terhadap diri sendiri maupun kenyataan yang menindas itu. Kenyataan seperti ini membuktikan kebenaran teori konflik sosial dalam menilai lembaga pendidikan. Weber, misalnya, berpandangan bahwa sekolah dibentuk di bawah kekuasaan kelompok atau golongan yang dominan sesuai dengan tujuan mereka. Kepentingan kelompok merupakan landasan dalam menetapkan kebijakan sistem suatu sekolah.

Menurut Foucault, terjadi pemberontakan pengetahuan yang tertindas, pengetahuan yang diremehkan sebagai tidak memadai—pengetahuan naïf yang ditempatkan pada posisi paling bawah dalam hierarki pengetahuan—, Foucault sering menggunakan istilah genealogi untuk merujuk kepada kesatuan pengetahuan intelek dan ingatan-ingatan lokal yang memungkinkan kita membangun pengetahuan historis tentang perjuangan hidup dan menggunakan pengetahuan tersebut secara taktis dalam kehidupan sehari-hari. Genealogi berfokus terutama pada pengetahuan lokal, diskontinu, hal remeh-temeh, dan dianggap tidak sah di hadapan klaim kesatuan teori yang akan menyaring, menyusun secara hierarkis dan menatanya atas nama pengetahuan sejati tertentu. Seperti Nietzsche, Foucault membalik cara pandang umum pola hubungan pengetahuan dan kekuasaan. Sementara pada umumnya, kita beranggapan bahwa pengetahuan memberikan kita kekuasaan untuk melakukan sesuatu yang tidak dapat kita lakukan tanpa pengetahuan itu, Foucault mengatakan pengetahuan adalah kekuasaan untuk menguasai yang lain. Menurut Foucault, pengetahuan tidak lagi membebaskan dan menjadi mode pengawasan, peraturan, peraturan, dan disiplin. Oleh karena itu melihat kekuasaan sebagai penindas, pembatas atau larangan tidak memadai lagi sebab kekuasaan “menciptakan realitas”, kekuasaan menciptakan domain objek dan ritual kebenaran. Foucault mengatakan kita sering mendengar kalimat klise “kekuasaan membuat gila”, tapi kita harus memperhatikan fakta bahwa pelaksanaan kekuasaan itu sendiri menciptakan dan melahirkan objek pengetahuan yang baru. Sebaliknya, pengetahuan menciptakan pengaruh-pengaruh kekuasaan. Tanpa pengetahuan kekuasaan tidak mungkin dijalankan, pengetahuan tidak mungkin tidak melahirkan kekuasaan.

Paulo Freire memiliki pandangan pendidikan harus dapat menggeser kesadaran naif, kesadaran magis kemudian diganti menjadi kesadaran kritis dan kesadaran transformatif. Paulo Freire dalam bukunya yang sangat tersohor yaitu Pendidikan Kaum Tertindas, Freire menjelaskan bahwa ada tiga tingkat kesadaran manusia. Pertama, kesadaran magis; merupakan kesadaran untuk menangkap fakta-fakta yang akan diberikan kepada penguasa yang mengontrol kesadarannya (alam gaib/mistis). Kedua, kesadaran naif; kesadaran ini lebih melihat aspek manusia menjadi akar penyebab masalah. Ketiga, kesadaran kritis; kesadaran ini lebih melihat aspek sistem dan struktur sebagai sumber masalah. Paulo Freire berpandangan “education as the practice of freedom” bahwa pendidikan pembebasan adalah membuat mereka yang tertindas atau terbelenggu suatu keadaan menjadi suatu kemerdekaan, kemandirian, tak terikat atau terjerat dalam keadaan yang mendominasi dirinya.

Kata kunci dalam metode pendidikan yang dikembangkan oleh Paulo Freire adalah Conscientization. Konsientasi adalah pembangkitan kesadaran kritis atau dapat dikatakan sebagai proses penyadaran. Adapun yang melatarbelakangi Paulo Freire dalam membuat konsep Conscientization atau kesadaran adalah keterbelakangan masyarakat Brazil yang lahir atas pengaruh feodalisme yang semakin mapan dan kehidupan rakyat yang berpusat kepada kekuasaan. Manusia dihancurkan oleh kekuasaan tuan tanah, gubernur, dan para penguasa. Berpijak dari fenomena keterbelakangan masyarakat Brazil, Freire terus menerus melakukan analisis kritis dan pergulatan intensif dengan realitas kondisi masyarakat Brazil. Hal penting yang didapatkan dari analisa tersebut adalah bahwasanya masyarakat Brazil tidak memiliki pengalaman demokrasi dan prasyarat-prasyarat bagi berkembangnya partisipasi dalam proses-proses pembangunan. Partisipasi menurut Freire adalah kemampuan untuk berpikir kritis bagi rakyat, dan sama sekali bukan kepada adaptasi.

Mohamad Fuad tentang pendidikan sebagai proses transformasi sosial yang menelaah filsafat pendidikan Paulo Freire berpendapat bahwa pendidikan adalah proses pembebasan dari sistem yang menindas. Pendidikan merupakan suatu sarana untuk memproduksi kesadaran dalam rangka mengembalikan sifat kemanusiaan setelah terjadinya proses dehumanisasi. Dalam kerangka ini pendidikan harus memiliki kepekaan terhadap persoalan ketidakadilan sosial dan harus mendudukkan peserta didik sebagai subjek dari segala kegiatan pendidikan. Oleh karena itu, kesadaran kritis sangat diperlukan wujudnya pada kepribadian peserta didik. Pendidikan kritis dapat digunakan sebagai sarana pembebasan untuk keluar dari penindasan agar tercipta perubahan sosial secara revolusioner.

Dalam kehidupan masyarakat tertindas terdapat kebudayaan bisu (culture of silence). Pendidikan dengan struktur institusionalnya menjadi alat untuk menyebarluaskan penindasan terhadap rakyat kecil, sehingga rakyat kecil kehilangan kesadaran terhadap diri sendiri terhadap kenyataan yang menindas itu. Kesadaran kritis dalam culture of silence ini mati dan tidak tergugah. Bahkan, ada ketakutan dari kaum tertindas akan adanya kesadaran atas ketertindasan mereka. 

Menurut Illich, sistem pendidikan yang baik dan membebaskan harus mempunyai tiga tujuan, yang pertama yaitu pendidikan harus memberi kesempatan kepada semua orang untuk bebas dan mudah memperoleh sumber belajar pada setiap saat. Kedua, pendidikan harus mengizinkan semua orang yang ingin memberikan pengetahuan mereka kepada orang lain itu bisa dilakukan dengan mudah, demikian pula bagi orang yang ingin mendapatkannya. Ketiga, menjamin tersedianya masukan umum yang berkenaan dengan pendidikan. Pemikiran restorasi pendidikan Ivan Illich tertuang dalam bukunya yang kontroversial, “Deschooling Society” (Masyarakat tanpa sekolah). Ia mengkritisi praktek kemapanan pendidikan yang diselenggarakan oleh sekolah. Sekolah di mata Illich tak ubahnya ibarat jalan tol. Mereka yang mampu membayar akan dengan leluasa masuk pada pendidikan di sekolah dan menikmatinya. Bagi mereka yang tidak mampu membayar, mereka tidak punya kesempatan untuk memperoleh pendidikan di sekolah. Dengan demikian kita dapat melihat berdasarkan filsafat pendidikan kontemporer dan paradigma pendidikan kritis Paulo Freire, konsep pendidikan Paulo Freire tentang kaum tertindas dapat dijelaskan dengan memahami konsientisasi pedagogi kaum tertindas dan budaya bisu kaum tertindas.

Agar pendidikan tidak mencapai pada titik kehancurannya kita perlu meredefinisi nilai-nilai sekolah seperti yang dikatakan oleh Neil Postman dalam the end of education bahwa tanpa sebuah tujuan yang transenden dan mulia, maka pendidikan di sekolah pasti akan mencapai masa berakhirnya, dan semakin cepat kita melakukan dengan disertai transendensi dan tujuan yang mulia, akan lebih baik.

Referensi:

[1]. Eskobar, M., et. al. Sekolah Kapitalisme yang Licik: Dialog Bareng Paulo Freire.Terj. Muhdi Rahayu, Yogyakarta, LkiS, 2008.

[2]. Nietzsche, Friedrich, Foucault, Michel, On the Genealogy of Morals , New York: Vintage Books, 1969

[3]. Freire, Paulo. T. Th. Pendidikan Kaum Tertindas. Terj. Utomo Dananjaya et.al., 1985. Jakarta: LP3ES.

[4]. Illich, Ivan. Deschooling Society. New York: Harper & Row Publisher. Terj. Surono Hargosenoyo dan Yusuf Hadi Miarso Cet. 3. 1998. Jakarta: Rajawali

 

[5]. Postman, Neil. Matinya Pendidikan (Redefinisi Nilai-Nilai Sekolah). II. Yogyakarta: Immortal Publishing, 2020.

Komentar

Postingan Populer