Monisme Moral; Runtuhkan Masyarakat
Multikultural
Manusia, makhluk yang berpikir, terus mencari akalnya
untuk menemukan kebenaran, karena manusia bergerak menuju kesempurnaan hingga
menemukan kebenaran yang ada. Relativitas hasil pikiran manusia memunculkan
persepsi tentang kebenaran yang ada, bahkan tidak berhenti di tengah-tengah,
meskipun memakan waktu lama, karena kebenaran yang dihasilkan oleh pikiran
manusia muncul dari kecepatan dan waktu spasial yang terbatas.
Tuhan yang merupakan sumber kebenaran mutlak bagi
orang yang beriman kepada-Nya, memiliki sumber kebenaran yang tidak dihasilkan
oleh ide-ide pikirannya. Sumber kebenaran adalah ilmu yang diwahyukan yang
disampaikan oleh para utusan-Nya. Namun ajaran Tuhan yang sebagian besar bersifat
interpretatif, menimbulkan pemahaman yang berbeda-beda tergantung tingkat
kecerdasan manusia. Orang-orang saleh menggunakan ilmu wahyu sebagai sumber
kebenaran selain kebenaran akal karena mereka beriman kepada Tuhan dan
menyadari batas-batas kebenaran akal mereka. Oleh karena itu, seseorang
memiliki model kebenaran yang berbeda dari orang lain, dan perbedaan itu harus
disalurkan ke dalam keadaan kebenaran Tuhan untuk menghindari kebenaran yang
merusak.
Dalam filsafat, gagasan bahwa ada satu kebenaran yang
berasal dari semua yang satu dikenal sebagai “monisme” dan kebenaran yang
berasal dari semua yang banyak dikenal sebagai pluralisme. Kedua istilah ini
digunakan oleh para filsuf Barat yang mencoba mengklasifikasikan masalah
metafisik yang telah berkembang dari filsafat klasik ke modern.
Monisme adalah
kata serapan dari monism.
Sedangkan akar kata “monisme” adalah monos dari bahasa Yunani yang
berarti tunggal, sendiri. Selanjutnya kata isme sendiri menunjukkan bahwa
monisme adalah sebuah
paham berteorikan ketunggalan yang tumbuh dan berkembang dalam dinamika
ilmu filsafat. Lorens Bagus memberikan
sejumlah bentuk pengertian, yaitu:
1. Teori
bahwa segala hal
dalam alam semesta
dapat dijabarkan pada (atau dijelaskan dalam kerangka) kegiatan
satu unsur dasariah.
Misalnya, Allah, materi, pikiran, energi, bentuk.
2. Teori bahwa segala hal berasal dari satu sumber terakhir
tunggal.
3. Keyakinan bahwa realitas adalah satu, dan segala sesuatu
lainnya adalah ilusi.
4. Ajaran yang mempertahankan bahwa dasar pokok seluruh
eksistensi Adalah satu sumber. Bagi kaum materialis, materi merupakan dasar
dunia. Sementara bagi kaum idealis, dasar dunia adalah roh, ide.
Dari sejumlah bentuk pengertian tersebut, dapat
dipahami bahwa monisme adalah paham atau ajaran yang menjelaskan eksistensi
segala realita dalam alam semesta berasal dari satu sumber kebenaran yang
tunggal. Berangkat dari perbedaan manusia dalam memaknai kehidupan (hidup
baik-buruk, hidup benar-salah) Orang barat berpaku pada pemikiran Yunani Kuno
yang disebut Monisme Moral. Monisme moral berpandangan bahwa hanya ada satu
jalan hidup yang sesungguhnya, yang paling baik, benar, dan menafikan yang
lainnya. Karena dalam hidup ada berbagai nilai, maka akan ada satu nilai utama,
sedangkan lainnya adalah syarat untuk nilai yang satu itu. Contoh: menurut
monisme moral, kejahatan adalah salah satu bentuk nilai. Dan kebenaran,
bersifat tunggal dan seragam. Tidak bisa benar di satu tempat, namun salah
ditempat lain. Untuk menunjukkan jalan hidup terbaik, Monisme berpendapat bahwa
nilai tersebut harus dimiliki semua manusia dan bisa lintas budaya. Nilai yang
dimaksud adalah sifat/kodrat manusia.
Monisme
Yunani
Bagi Plato, kodrat manusia terdiri dari 3 elemen dasar
(akal, jiwa, hasrat). Hasrat: Biologis, Jiwa: Psikologis, Akal: Pengontrol
Biologis dan Psikologis yang bersifat teoritis dan praktis. Akal adalah elemen
tertinggi karena penentu baik-buruk kebahagiaan ditentukan oleh dominasi 3
elemen tersebut. Menurut Plato, orang Yunani adalah superior, karena semua
orang Yunani membentuk masyarakat tunggal, yang secara kodrati, berteman.
Aristoteles tidak memakai jiwa dan hasrat untuk
memaknai kodrati. Namun memaknai akal sebagai kemampuan tertinggi secara
teoritis-praktis. Yang terbaik untuk manusia adalah apa yang menurutnya baik.
Jalan hidup terbaik pertama menurutnya adalah pemujaan pada Tuhan. Walaupun
pemikirannya banyak yang berlawanan. Kedua, kehidupan yang dicurahkan pada
kebaikan moral pada masyarakat. Intinya, kehidupan tertinggi ada pada dorongan
masing-masing manusia. Namun menurut Aristoteles dan Plato, menjadi pemikir
adalah jalan terbaik sebab akal adalah kemampuan tertinggi manusia dan sebagai
sumber kebenaran.
Jadi, Monisme Yunani memisahkan akal dan moral dengan
kebudayaan. Menekankan adanya kelas sosial dan relatif soal keadilan. Sama saja
mengakui akan pentingnya politik dan ekonomi. Dua filsuf itu tidak mengakui
kebudayaan sebagai pembentuk karakter manusia, sehingga tidak menerima bahwa
kehidupan terbaik bisa dilalui dengan banyak jalan. Pada dasarnya monisme Yunani
mengatakan bahwa manusia sebagai pondasi awal dari sebuah kebenaran secara
mutlak.
Monisme
Kristen
Tuhan yang menciptakan keanekaragaman manusia,
karenanya Tuhan tidak menunjukkan keagungan nilai-Nya. Agustinus mempertanyakan
mengapa tuhan tidak menciptakan semuanya seragam. Karena semua seragam,
benda-benda tidak akan ada. Keanekaragaman menurut Augustinus dan Aquinas
berkontribusi sebagai penyelaras alam semesta. Namun, semuanya harus
diintervensi oleh nilai dari Tuhan agar manusia sama.
Monisme Kristen didasari pada teologis dan keyakinan
bahwa dia adalah satu-satunya agama yang benar. Ada dua pandangan dalam hal
tersebut: 1) yakin dan membuktikan kebenaran agamanya tersebut, 2) sekadar
yakin dan tanpa paksaan. Lebih lanjut, Kristen dihadapkan dengan Yudaisme,
Paganisme, Islam, Hindu, Buddha yang melemahkan kebenaran agamanya. Awal-awal
Kristen, dianggap sebagai bagian dari Yudaisme. Terutama dari segi hukum.
Monisme Kristen telah banyak menyebabkan sikap tidak
toleran dan kekerasan kepada penganut agama lain. Intinya monisme kristen menganggap
bahwa jalan hidup kristenlah yang benar, namun memunculkan beberapa kritikan
dan perdebatan internal demi membuka diri terhadap agama lain. Pada monisme
Kristen menegaskan bahwa hanya ada satu ajaran Agama paling benar yang
diturunkan oleh Tuhan dan Agama yang lain semuanya tidak benar.
Monisme
dalam Pandangan Islam
Istilah monisme sering diungkapkan dengan istilah serba
tunggal, serba Esa, dan merupakan masalah metafisika dengan pertanyaan
berapakah jumlah hakikat itu. Filosofi materialisme (serba zat) menjawab: satu.
Dan yang satu itu ialah materi. Demikian pula yang berpahamkan serba
ruh. Tetapi yang satu ialah ruh
dengan beragam penamaan.
Mengenai masalah kuantitas, kedua
filsafat itu berpahamkan serba esa atau monisme. Hakikat itu tunggal adanya.
Dalam pandangan Islam, adanya dua yang tunggal yakni
zat dan ruh bertentangan dengan ajaran inti Islam, tauhid. Sebagaimana al-Ghazali
yang menentang teori emanasi al-Farabi dengan
adanya qadim selain Allah swt. Al-Ghazali konsekuen dengan keesaan
Tuhan, menekankan bahwa jumlah hakikat itu esa adanya. Dan itulah Tuhan Yang
Maha Esa. Tuhan menciptakan alam sebagai makhluk-Nya. Alam itu dari tidak ada,
diadakan-Nya. Dengan demikian alam tidaklah qadim. Teori Emanasi al-Farabi
(al-Fay) mengungkapkan bahwa Yang Maha Esa itu ialah Yang Pertama dan Yang Terdahulu
(al-Qadim)10, yaitu Allah swt. Sedangkan kejadian alam merupakan limpahan
dari Tuhan. Tuhan lebih dahulu daripada alam, bukan dari segi masanya, melainkan dari segi substansinya, seperti lebih
dahulunya angka satu daripada angka dua.
Bagi teori ini, tiap-tiap yang baru, sebelum terjadinya, tidak lepas dari
tiga sifat: (1) mungkin ujud; (2) tidak mungkin ujud; dan (3) wajib ujud. Konsekuensi
dari logika teori emanasi al-Farabi yaitu Tuhan dan alam baru kedua-duanya atau
dengan kata lain Tuhan dan alam qadim kedua-duanya, mustahil salah satu kadim sedangkan yang lain baru.
Al-Ghazali menolak kesimpulan logis semacam itu, yang
berupa kekacauan filosofis. Legitimasi lebih dari satu eksistensi yang
terungkap dalam teori emanasi dipandang sebagai distorsi ajaran tauhid Islam
dan berbahaya bagi tauhid setiap muslim, seperti fenomena keengganan seorang
muslim untuk mengaktualisasikan dirinya. Hukum agama Karena logika seperti itu
mengarah pada persoalan hakiki lainnya, seperti pengingkaran terhadap kehendak
dan kekuasaan Tuhan, sehingga alam semesta tidak diciptakan atas kehendak-Nya
melainkan atas kuasa material-Nya.
Dalam Islam, pandangan monisme mewarnai keyakinan
umumnya umat Islam, Islam diyakini sebagai satu-satunya agama yang benar,
satu-satunya agama yang diridhai Allah swt.
sedangkan agama lain dipandang sesat atau menyimpang dari fitrah
manusia. Pandangan monisme dalam Islam
dibedakan atas dua, yaitu: Monisme Modernis dan Monisme Revivalistik. Menurut William Montgomery Watt, Monisme
Modernis adalah cara
pandang umat terhadap
Islam yang diklaim sebagai agama
lengkap pada tataran norma dan ajaran dasar. Tetapi pada tataran konstruksi
praktis, Islam terbuka terhadap konsep luar dan perubahan-perubahan konstruktif,
karena itu terbuka terhadap pengaruh yang datang dari luar seperti pengaruh
peradaban Barat.
Monisme
Liberal Klasik
Sejak liberalisme berkembang dalam lingkungan
kebudayaan yang berkembang dengan pengaruh Kristen selama berabad-abad, hampir
tidak mungkin mampu menghindari pembentukan olehnya. Sebuah peranan penting dalam
perkembangan dan artikulasi liberalisme memiliki hubungan dengan munculnya
negara maju. Sebagaimana liberalisme mengalami kebangkitan intelektual dan
politik, hal itu memberi ciri khas pada negara.
Bahkan sebagaimana kaum liberal berusaha untuk memperadabkan
'ras terbelakang' di luar negeri, mereka mempergunakan negara untuk memperadabkan
kaum feodal yang 'reaksioner' dan kelas pekerja 'yang terbelakang' di
negaranya. Dua misi tersebut sangat erat berkaitan, memerlukan strategi yang
serupa, dan membentuk bagian dari sebuah proyek nasional pada umumnya.
Kritik
Monisme Moral
Penyebaran Nilai yang Terlalu Luas: Salah satu
kelemahan monisme moral adalah bahwa mereka mencoba untuk menggeneralisasi
prinsip moral yang berlaku untuk semua situasi. Meminimalkan Keanekaragaman:
Monisme moral cenderung mengurangi variasi pandangan tentang moralitas yang
dapat berbeda-beda di antara kelompok masyarakat atau individu. Penilaian
Subjektif: Kebenaran monisme moral bergantung pada perspektif yang diterapkan.
Karena itu, apabila orang memilih pandangan yang berbeda, maka nilai-nilai
moral akan bervariasi sesuai dengan pandangan subjektif masing-masing.
Sulit Menentukan Nilai yang Benar: Menerapkan prinsip
monisme moral dalam praktiknya seringkali sulit karena seringkali terdapat
perdebatan tentang apa yang benar dan salah. Penilaian Terlalu Sederhana:
Monisme moral terkadang disalahkan karena menawarkan penilaian moral yang
terlalu sederhana atau meminimalkan kompleksitas masalah yang dihadapi.
Keanekaragaman masyarakat modern saat ini memunculkan
konsep multikulralisme. Multikulturalisme ideologi yang mengagungkan perbedaan.
“Multikulturalisme” pada dasarnya adalah pandangan dunia yang kemudian dapat
diterjemahkan dalam berbagai kebijakan kebudayaan yang menekankan penerimaan
terhadap realitas keagamaan, pluralitas, dan multikultural yang terdapat dalam
kehidupan masyarakat. Multikulturalisme dapat juga dipahami sebagai pandangan
dunia yang kemudian diwujudkan dalam kesadaran politik. Dalam kerangka politik
multikulturalisme, Kymlicka mengemukakan terdapat dua aspek munculnya
multikulturalisme, yakni migrasi yang masuk ke suatu daerah dan adanya
kebanggaan sebagai minoritas. Aspek pertama dialami oleh negara-negara tujuan imigran
dalam studi kasus yang diteliti pada negara Amerika Serikat, Kanada, dan
Australia. Sedangkan aspek kedua lebih bersifat pada unsur identitas yang
dimiliki oleh individu yang dirasa lebih kuat dari pada rasa nasionalismenya
(Kymlicka 2011).
Pada dasarnya, semua bangsa di dunia adalah multikultural.
Keberadaan masyarakat multikultural membawa nilai tambah bagi bangsa.
Keanekaragaman ras, suku, etnik atau agama merupakan ciri tersendiri, seperti
halnya bangsa Indonesia yang unik dan kompleks karena keanekaragaman suku,
agama, kebangsaan dan ras. Masyarakat Multikultural Indonesia adalah masyarakat
yang berlandaskan ideologi Multikulturalisme atau Bhinneka Tunggal Ika yang
multikultural dan mendukung struktur masyarakat Indonesia di tingkat nasional
dan daerah.
Kebhinekaan merupakan keniscayaan dalam kehidupan
bermasyarakat, hal itu merupakan konsekuensi logis yang harus dialami dalam
kehidupan bermasyarakat, bahwa kebhinekaan dapat dijadikan sebagai ciri pembeda
suatu daerah atau negara, tetapi juga dapat menjadi masalah yang serius jika tidak
disikapi. Di negara majemuk sering terjadi konflik horizontal, perpecahan
sosial dan disintegrasi bangsa, yang tentunya akan menjadi hambatan dalam
berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dengan memahami multikulturalisme dan pendidikan Indonesia,
dimungkinkan untuk menciptakan komunikasi lintas budaya. Artinya antar budaya
ada keinginan untuk saling mengenal guna mengurangi gesekan-gesekan yang timbul
dari perbedaan perkembangan dan pengembangan potensi dalam kehidupan berbangsa
dan bernegara.




Komentar
Posting Komentar