Monisme Moral; Runtuhkan Masyarakat Multikultural


Oleh: Ardi Wardana

Manusia, makhluk yang berpikir, terus mencari akalnya untuk menemukan kebenaran, karena manusia bergerak menuju kesempurnaan hingga menemukan kebenaran yang ada. Relativitas hasil pikiran manusia memunculkan persepsi tentang kebenaran yang ada, bahkan tidak berhenti di tengah-tengah, meskipun memakan waktu lama, karena kebenaran yang dihasilkan oleh pikiran manusia muncul dari kecepatan dan waktu spasial yang terbatas.

Tuhan yang merupakan sumber kebenaran mutlak bagi orang yang beriman kepada-Nya, memiliki sumber kebenaran yang tidak dihasilkan oleh ide-ide pikirannya. Sumber kebenaran adalah ilmu yang diwahyukan yang disampaikan oleh para utusan-Nya. Namun ajaran Tuhan yang sebagian besar bersifat interpretatif, menimbulkan pemahaman yang berbeda-beda tergantung tingkat kecerdasan manusia. Orang-orang saleh menggunakan ilmu wahyu sebagai sumber kebenaran selain kebenaran akal karena mereka beriman kepada Tuhan dan menyadari batas-batas kebenaran akal mereka. Oleh karena itu, seseorang memiliki model kebenaran yang berbeda dari orang lain, dan perbedaan itu harus disalurkan ke dalam keadaan kebenaran Tuhan untuk menghindari kebenaran yang merusak.

Dalam filsafat, gagasan bahwa ada satu kebenaran yang berasal dari semua yang satu dikenal sebagai “monisme” dan kebenaran yang berasal dari semua yang banyak dikenal sebagai pluralisme. Kedua istilah ini digunakan oleh para filsuf Barat yang mencoba mengklasifikasikan masalah metafisik yang telah berkembang dari filsafat klasik ke modern.  

Monisme adalah   kata serapan   dari monism. Sedangkan akar kata “monisme” adalah monos dari bahasa Yunani yang berarti tunggal, sendiri. Selanjutnya kata isme sendiri menunjukkan     bahwa     monisme     adalah     sebuah     paham berteorikan ketunggalan yang tumbuh dan berkembang dalam dinamika ilmu filsafat.  Lorens Bagus memberikan sejumlah bentuk pengertian, yaitu:

1.     Teori    bahwa    segala    hal    dalam    alam    semesta    dapat dijabarkan pada (atau dijelaskan dalam kerangka) kegiatan satu   unsur   dasariah.   Misalnya, Allah, materi, pikiran, energi, bentuk.

2.     Teori bahwa segala hal berasal dari satu sumber terakhir tunggal.

3.     Keyakinan bahwa realitas adalah satu, dan segala sesuatu lainnya adalah ilusi.

4.     Ajaran yang mempertahankan bahwa dasar pokok seluruh eksistensi Adalah satu sumber. Bagi kaum materialis, materi merupakan dasar dunia. Sementara bagi kaum idealis, dasar dunia adalah roh, ide.

Dari sejumlah bentuk pengertian tersebut, dapat dipahami bahwa monisme adalah paham atau ajaran yang menjelaskan eksistensi segala realita dalam alam semesta berasal dari satu sumber kebenaran yang tunggal. Berangkat dari perbedaan manusia dalam memaknai kehidupan (hidup baik-buruk, hidup benar-salah) Orang barat berpaku pada pemikiran Yunani Kuno yang disebut Monisme Moral. Monisme moral berpandangan bahwa hanya ada satu jalan hidup yang sesungguhnya, yang paling baik, benar, dan menafikan yang lainnya. Karena dalam hidup ada berbagai nilai, maka akan ada satu nilai utama, sedangkan lainnya adalah syarat untuk nilai yang satu itu. Contoh: menurut monisme moral, kejahatan adalah salah satu bentuk nilai. Dan kebenaran, bersifat tunggal dan seragam. Tidak bisa benar di satu tempat, namun salah ditempat lain. Untuk menunjukkan jalan hidup terbaik, Monisme berpendapat bahwa nilai tersebut harus dimiliki semua manusia dan bisa lintas budaya. Nilai yang dimaksud adalah sifat/kodrat manusia.

Monisme Yunani

Bagi Plato, kodrat manusia terdiri dari 3 elemen dasar (akal, jiwa, hasrat). Hasrat: Biologis, Jiwa: Psikologis, Akal: Pengontrol Biologis dan Psikologis yang bersifat teoritis dan praktis. Akal adalah elemen tertinggi karena penentu baik-buruk kebahagiaan ditentukan oleh dominasi 3 elemen tersebut. Menurut Plato, orang Yunani adalah superior, karena semua orang Yunani membentuk masyarakat tunggal, yang secara kodrati, berteman.

Aristoteles tidak memakai jiwa dan hasrat untuk memaknai kodrati. Namun memaknai akal sebagai kemampuan tertinggi secara teoritis-praktis. Yang terbaik untuk manusia adalah apa yang menurutnya baik. Jalan hidup terbaik pertama menurutnya adalah pemujaan pada Tuhan. Walaupun pemikirannya banyak yang berlawanan. Kedua, kehidupan yang dicurahkan pada kebaikan moral pada masyarakat. Intinya, kehidupan tertinggi ada pada dorongan masing-masing manusia. Namun menurut Aristoteles dan Plato, menjadi pemikir adalah jalan terbaik sebab akal adalah kemampuan tertinggi manusia dan sebagai sumber kebenaran.

Jadi, Monisme Yunani memisahkan akal dan moral dengan kebudayaan. Menekankan adanya kelas sosial dan relatif soal keadilan. Sama saja mengakui akan pentingnya politik dan ekonomi. Dua filsuf itu tidak mengakui kebudayaan sebagai pembentuk karakter manusia, sehingga tidak menerima bahwa kehidupan terbaik bisa dilalui dengan banyak jalan. Pada dasarnya monisme Yunani mengatakan bahwa manusia sebagai pondasi awal dari sebuah kebenaran secara mutlak.

Monisme Kristen

Tuhan yang menciptakan keanekaragaman manusia, karenanya Tuhan tidak menunjukkan keagungan nilai-Nya. Agustinus mempertanyakan mengapa tuhan tidak menciptakan semuanya seragam. Karena semua seragam, benda-benda tidak akan ada. Keanekaragaman menurut Augustinus dan Aquinas berkontribusi sebagai penyelaras alam semesta. Namun, semuanya harus diintervensi oleh nilai dari Tuhan agar manusia sama.

Monisme Kristen didasari pada teologis dan keyakinan bahwa dia adalah satu-satunya agama yang benar. Ada dua pandangan dalam hal tersebut: 1) yakin dan membuktikan kebenaran agamanya tersebut, 2) sekadar yakin dan tanpa paksaan. Lebih lanjut, Kristen dihadapkan dengan Yudaisme, Paganisme, Islam, Hindu, Buddha yang melemahkan kebenaran agamanya. Awal-awal Kristen, dianggap sebagai bagian dari Yudaisme. Terutama dari segi hukum.

Monisme Kristen telah banyak menyebabkan sikap tidak toleran dan kekerasan kepada penganut agama lain. Intinya monisme kristen menganggap bahwa jalan hidup kristenlah yang benar, namun memunculkan beberapa kritikan dan perdebatan internal demi membuka diri terhadap agama lain. Pada monisme Kristen menegaskan bahwa hanya ada satu ajaran Agama paling benar yang diturunkan oleh Tuhan dan Agama yang lain semuanya tidak benar.

Monisme dalam Pandangan Islam

Istilah monisme sering diungkapkan dengan istilah serba tunggal, serba Esa, dan merupakan masalah metafisika dengan pertanyaan berapakah jumlah hakikat itu. Filosofi materialisme (serba zat) menjawab:  satu.  Dan yang satu itu ialah materi. Demikian pula yang berpahamkan serba ruh.  Tetapi yang satu ialah   ruh   dengan   beragam   penamaan.   Mengenai   masalah kuantitas, kedua filsafat itu berpahamkan serba esa atau monisme. Hakikat itu tunggal adanya.

Dalam pandangan Islam, adanya dua yang tunggal yakni zat dan ruh bertentangan dengan ajaran inti Islam, tauhid. Sebagaimana al-Ghazali yang menentang teori emanasi al-Farabi dengan   adanya qadim selain Allah swt. Al-Ghazali konsekuen dengan keesaan Tuhan, menekankan bahwa jumlah hakikat itu esa adanya. Dan itulah Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan menciptakan alam sebagai makhluk-Nya. Alam itu dari tidak ada, diadakan-Nya. Dengan demikian alam tidaklah qadim. Teori Emanasi al-Farabi (al-Fay) mengungkapkan bahwa Yang Maha Esa itu ialah Yang Pertama dan Yang Terdahulu (al-Qadim)10, yaitu Allah swt. Sedangkan kejadian alam merupakan   limpahan   dari Tuhan. Tuhan lebih dahulu daripada alam, bukan dari segi masanya, melainkan   dari segi substansinya, seperti lebih dahulunya angka satu daripada angka dua.  Bagi teori ini, tiap-tiap yang baru, sebelum terjadinya, tidak lepas dari tiga sifat: (1) mungkin ujud; (2) tidak mungkin ujud; dan (3) wajib ujud. Konsekuensi dari logika teori emanasi al-Farabi yaitu Tuhan dan alam baru kedua-duanya atau dengan kata lain Tuhan dan alam qadim kedua-duanya, mustahil salah    satu kadim sedangkan yang lain baru.

Al-Ghazali menolak kesimpulan logis semacam itu, yang berupa kekacauan filosofis. Legitimasi lebih dari satu eksistensi yang terungkap dalam teori emanasi dipandang sebagai distorsi ajaran tauhid Islam dan berbahaya bagi tauhid setiap muslim, seperti fenomena keengganan seorang muslim untuk mengaktualisasikan dirinya. Hukum agama Karena logika seperti itu mengarah pada persoalan hakiki lainnya, seperti pengingkaran terhadap kehendak dan kekuasaan Tuhan, sehingga alam semesta tidak diciptakan atas kehendak-Nya melainkan atas kuasa material-Nya. 

Dalam Islam, pandangan monisme mewarnai keyakinan umumnya umat Islam, Islam diyakini sebagai satu-satunya agama yang benar, satu-satunya agama yang diridhai Allah swt.  sedangkan agama lain dipandang sesat atau menyimpang dari fitrah manusia. Pandangan    monisme dalam Islam dibedakan atas dua, yaitu: Monisme Modernis dan Monisme Revivalistik.  Menurut William Montgomery Watt, Monisme Modernis   adalah   cara   pandang   umat   terhadap   Islam   yang diklaim sebagai agama lengkap pada tataran norma dan ajaran dasar. Tetapi pada tataran konstruksi praktis, Islam terbuka terhadap konsep luar dan perubahan-perubahan konstruktif, karena itu terbuka terhadap pengaruh yang datang dari luar seperti pengaruh peradaban Barat.

Monisme Liberal Klasik

Sejak liberalisme berkembang dalam lingkungan kebudayaan yang berkembang dengan pengaruh Kristen selama berabad-abad, hampir tidak mungkin mampu menghindari pembentukan olehnya. Sebuah peranan penting dalam perkembangan dan artikulasi liberalisme memiliki hubungan dengan munculnya negara maju. Sebagaimana liberalisme mengalami kebangkitan intelektual dan politik, hal itu memberi ciri khas pada negara.

Bahkan sebagaimana kaum liberal berusaha untuk memperadabkan 'ras terbelakang' di luar negeri, mereka mempergunakan negara untuk memperadabkan kaum feodal yang 'reaksioner' dan kelas pekerja 'yang terbelakang' di negaranya. Dua misi tersebut sangat erat berkaitan, memerlukan strategi yang serupa, dan membentuk bagian dari sebuah proyek nasional pada umumnya.

Kritik Monisme Moral

Penyebaran Nilai yang Terlalu Luas: Salah satu kelemahan monisme moral adalah bahwa mereka mencoba untuk menggeneralisasi prinsip moral yang berlaku untuk semua situasi. Meminimalkan Keanekaragaman: Monisme moral cenderung mengurangi variasi pandangan tentang moralitas yang dapat berbeda-beda di antara kelompok masyarakat atau individu. Penilaian Subjektif: Kebenaran monisme moral bergantung pada perspektif yang diterapkan. Karena itu, apabila orang memilih pandangan yang berbeda, maka nilai-nilai moral akan bervariasi sesuai dengan pandangan subjektif masing-masing.

Sulit Menentukan Nilai yang Benar: Menerapkan prinsip monisme moral dalam praktiknya seringkali sulit karena seringkali terdapat perdebatan tentang apa yang benar dan salah. Penilaian Terlalu Sederhana: Monisme moral terkadang disalahkan karena menawarkan penilaian moral yang terlalu sederhana atau meminimalkan kompleksitas masalah yang dihadapi.

Keanekaragaman masyarakat modern saat ini memunculkan konsep multikulralisme. Multikulturalisme ideologi yang mengagungkan perbedaan. “Multikulturalisme” pada dasarnya adalah pandangan dunia yang kemudian dapat diterjemahkan dalam berbagai kebijakan kebudayaan yang menekankan penerimaan terhadap realitas keagamaan, pluralitas, dan multikultural yang terdapat dalam kehidupan masyarakat. Multikulturalisme dapat juga dipahami sebagai pandangan dunia yang kemudian diwujudkan dalam kesadaran politik. Dalam kerangka politik multikulturalisme, Kymlicka mengemukakan terdapat dua aspek munculnya multikulturalisme, yakni migrasi yang masuk ke suatu daerah dan adanya kebanggaan sebagai minoritas. Aspek pertama dialami oleh negara-negara tujuan imigran dalam studi kasus yang diteliti pada negara Amerika Serikat, Kanada, dan Australia. Sedangkan aspek kedua lebih bersifat pada unsur identitas yang dimiliki oleh individu yang dirasa lebih kuat dari pada rasa nasionalismenya (Kymlicka 2011).

Pada dasarnya, semua bangsa di dunia adalah multikultural. Keberadaan masyarakat multikultural membawa nilai tambah bagi bangsa. Keanekaragaman ras, suku, etnik atau agama merupakan ciri tersendiri, seperti halnya bangsa Indonesia yang unik dan kompleks karena keanekaragaman suku, agama, kebangsaan dan ras. Masyarakat Multikultural Indonesia adalah masyarakat yang berlandaskan ideologi Multikulturalisme atau Bhinneka Tunggal Ika yang multikultural dan mendukung struktur masyarakat Indonesia di tingkat nasional dan daerah.

Kebhinekaan merupakan keniscayaan dalam kehidupan bermasyarakat, hal itu merupakan konsekuensi logis yang harus dialami dalam kehidupan bermasyarakat, bahwa kebhinekaan dapat dijadikan sebagai ciri pembeda suatu daerah atau negara, tetapi juga dapat menjadi masalah yang serius jika tidak disikapi. Di negara majemuk sering terjadi konflik horizontal, perpecahan sosial dan disintegrasi bangsa, yang tentunya akan menjadi hambatan dalam berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dengan memahami multikulturalisme dan pendidikan Indonesia, dimungkinkan untuk menciptakan komunikasi lintas budaya. Artinya antar budaya ada keinginan untuk saling mengenal guna mengurangi gesekan-gesekan yang timbul dari perbedaan perkembangan dan pengembangan potensi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.  


Komentar

Postingan Populer