LAKI-LAKI, MASKULINITAS DAN PETA JALAN GERAKAN LAKI-LAKI PRO FEMINISME
Oleh : Ikhlasy A. Marhami
Judul Buku: Good
Boys Doing Feminism
Penulis : Nur Hayim
Penerbit : Buku Mojok
Group, 2020
Tebal : xvi + 160
halaman
Bila patriari dimaknai sebagai
sebuah sistem yang memberi privilese kepada laki-laki dan pada saat yang bersamaan
mendiskriminasi serta merampas hak-hak perempuan, tentu akan sulit membayangkan
seorang laki-laki berdiri berbalik menentang sistem patriatki. Sistem tersebut menguntungkan laki-laki,
bagaimana mungkin laki-laki yang diuntungkan justru berbalik berdiri menentang
sistem yang menguntungkannya. “Mungkinkah
seorang laki-laki melakukan kerja-kerja untuk melucuti privilese dan kekuasan
yang menguntungkan dirinya?”
pertanyaan tersebut barangkali akan menjadi pertanyaan pertama yang diajukan.
Pertanyaan itu juga, yang menjadi salah satu pertanyaan yang berusaha dijawab Nur
Hasyim dalam buku setebal 160 halaman berjudul “Good Boys Doing Feminism”.
Laki-laki dan Maskulinitas.
Apakah sistem patriarki selalu
menguntungkan laki-laki? Jawabannya tidak. Pada titik-titik tertentu nyatanya
sistem patriarki juga merugikan laki-laki. Sama halnya dengan perempuan, dalam
sistem patriarki laki-laki juga dikondisikan. Dalam sistem partiarki, perempuan
dikondisikan melalui konstruksi feminitas sedangkan laki-laki dikondisikan
melalui konstruksi maskulinitas. Lebih tepatnya maskulinitas hegemonik.
Istilah maskulinitas hegemonik pertama
kali diperkenalkan oleh Raweyn Connel
(2005), seorang ilmuan sosial Australia. Istilah ini merujuk kepada sebuah
konsepsi maskulinitas yang menjadi standar dalam masyarakat tentang bagaimana sosok
laki-laki ideal (hal. 45). Sama
halnya dengan feminitas, maskulinitas juga merupakan konstruksi sosial, maka
setiap masyarakat bisa jadi memiliki karakteristik maskulinitas yang
berbeda-beda. Namun umumnya, maskulinitas
hegemonik dicirikan dengan
kekuatan fisik, dominasi, superioritas , dan kekerasan (hal. 46).
Maskulinitas hegemonik inilah
yang dilihat oleh Nur Hasyim sebagai hal yang merugikan bagi laki-laki. Sebab
lewat maskulinitas hegemonik laki-laki dikonstruksi agar menjadi seorang
penindas . Selain itu, maskulinitas hegemonik juga membawa dampak buruk bagi
kehidupan laki-laki, diantaranya: Pertama,
menciptakan relasi hierarkis antara laki-laki. Tiidak semua laki-laki bisa
memenuhi standar maskulinitas. Karenanya Laki-laki yang dapat memenuhi kriteria
maskulinitas akan berada dipuncak hierakis, sedangkan laki-laki yang tidak
mampu memunuhi kriteria maskulinitas, karena keterbatasannya dalam memunuhi
kriteria itu, akan berada dipoisisi bawah (hal. 46). Oleh karena itu, sistem patriarki tidak hanya menciptakan
relasi yang hierarkis antara laki-laki dan perempuan, namun juga antara
laki-laki itu sendiri.
Kedua, laki-laki dibuat ketagihan dengan perilaku menindas dan
melibatkan kekerasan. Maskulinitas hegemonik mengkondisikan laki-laki mempunyai
sikap yang dominan dan menggunakan kekerasan dalam menyikapi perbedaan dan
menyelesaikan konflik. Dengan konsepsi maskulinitas demikian, laki-laki yang
menyelesaikan konflik dengan damai akan dicap bukan laki-laki sejati. Karenanya
jalan satu-satunya menjadi laki-laki sejati adalah mnyelesaikannya dengan
kekerasan. Pada titik ini, Nur Hayim melihat bahwa sistem patriarki menghalangi
laki-laki untuk menggunakan pilihan lain
yang lebih manusiawi dan beradab,
semisal dengan dialog, negosiasi atau kompromi dalam menyelesaikan
masalah (hal. 27).
Ketiga, laki-laki mengalami kecemasan sepanjang hidupnya. Menjadi tulang punggung keluarga, menjadi
pencari nafkah dan sebagainya, merupakan atribut maskulinitas yang dilekatkan
kepada laki-laki. Oleh sebab itu, laki-laki ditekan untuk memenuhi kriteria
maskulinitas tersebut. Dan pada waktu yang sama laki-laki juga mengalami
kecemasan jika sewaktu-waktu mereka tidak mampu untuk memenuhi ekspektasi
maskulinitas seperti itu, sehingga harus menanggung rasa malu, tersubkordinasi dan tidak dianggap
sebagai laki-laki ideal (hal. 28).
Keempat, beresiko bagi kecenderungan
laki-laki. Citra laki-laki sebagai subjek seksual berpengaruh kepada perilaku
seksualnya. Citra laki-laki ideal yang
dinilai dari aktiftias seksualnya membuat laki-laki menjadi pembeli industri
seks terbesar. Situasi ini membuat
laki-laki rentan untuk terpapar penyakit menular seksual seperti; HIV AIDS (hal. 28).
Keempat kerugian laki-laki dalam
sistem patriarki tersebut, bukan bermaksud menyangkal anggapan bahwa laki-laki
diuntungkan sebab punya privilese dan kekuasan yang diberikan sistem patriarki.
Seperti diungkapkan Nur Hasyim dalam kata pengantar buku ini, hal tersebut dimaksudkan
bukan untuk membela laki-laki melainkan untuk dasar pikiran bahwa pembelaan
laki-laki terhadap hak perempuan memiliki alasan yang kuat. Hal ini penting, utamanya
bagi laki-laki, untuk mendorong terbentuknya kesadaran bahwa perjuangan
kesetaraan gender bukan hanya perjuangan untuk perempuan semata, namun untuk
setiap manusia, termasuk untuk laki-laki.
Peta jalan gerakan laki-laki pro-feminisme
Namun posisi laki-laki pro feminism
dalam gerakan keadilan gender bukanlah posisi yag sederhana. Posisinya sangat
rumit dan kompleks. Hal ini tidak terlepas dari keadaan dimana perubahan sikap
untuk menjadi laki-laki pro feminsime, tidak diiringi dengan perubahan struktur
masyarakat dimana mereka hidup (hal.
41). Artinya, meski mereka
mendeklarasikan sikap yang pro feminism, mereka tidak serta merta berhenti
menikmati privilese dan keistemaaan yang
mereka punya. Oleh Nur Hasyim kondisi demikian disebut dengan kondisi yang
penuh jebakan. Alih-alih menghentikan dominasi laki-laki teradap perempuan,
keterlibatan laki-laki dalam gerakan feminism berpotensi tergelincir dalam melanggengkan penindasan itu sendiri
(hal. 42)
Atas dasar kompleksitas yan
demikian, maka Nur Hasyim kemudian menganggap penting merumuskan peta jalan gerakan
laki-laki feminis atau pro feminisme. Peta jalan ini penting untuk menjaga
arah gerakan dan untuk melihat pencapaian-pencappaiannya (hal. 42) . Peta tersebut setidaknya
mencakup empat titik pemberhentian, yakni ; (1) membuka selubung privilese dan
kekuasaan; (2) mentransformasi konsep maskulinitas patriarkis; (3) menerapkan
cara baru menjadi laki-laki yang mencerminkan kesetraan dan keadilan; (4)
menjadi sekutu bagi perempuan untuk pencapaian keadilan dan penghapusan kekerasan
terhadap perempuan (hal.
43-50). Dimana satu titik pemberhentian harus dilalui sebelum lanjut melangkah
pada titik lainnya. Disebut pemberhentian sebab
disetiap tahapan membutuhkan
usaha, sumber daya, fokus, dan
kerja-kerja perubahan sosial yang tidak sedikit (hal. 43)
Sebagai penutup, buku “Good Boys Doing Feminism” merupakan sebuah buku yang
menarik untuk dibaca. Setidaknya ada dua hal mengapa buku ini menarik untuk
dibaca: pertama, di Indonesia kajian
gender telah berkembang pesat, namun masih sedikit karya, utamanya buku
berbahasa Indonesia, yang mencoba melihat bagaimana pengalaman laki-laki menjalani
kehidupannya dalam sistem patriarki. Kedua,
buku ini berisi pengalaman praktis. Nur Hasyim sendiri, merupakan seorang
pengajar di Program Studi Sosiologi FISIP , UIN Wali Songo. Selian itu ia juga
merupakan salah satu pendiri jaringan laki-laki pro feminism di Indonesia yang
bernama “Aliansi Laki-Laki
Baru”. Karenanya apa yang dituliskannya
dalam Good Boys Doing Feminism bukan
hanya berisi teori yang melangit, namun juga berisi pengalaman-pengalaman
praktis yang membumi mengenai gerakan laki-laki feminis atau pro feminisme di
Indonesia. ‘Good Boys Doing Feminsm’ membuka mata pembaca bahwa menjadi
laki-laki feminis atau pro feminism bukanlah hal yang mustahil.



Komentar
Posting Komentar