PENGUATAN KEBUDAYAAN PANCING ULUR HANYUT DALAM PENGEMBANGAN MASYARAKAT PESISIR KEPULAUAN SPERMONDE

Source : makassarbaik.com
Oleh Muhammad Raihan Kamal

Abstrak

 

Pemanfaatan sumber daya laut adalah hal yang menjadi prioritas bagi masyarakat pesisir khususnya di kepulauan spermonde. Kepulauan spermonde yang memiliki keaneka ragaman biota laut ini menjadi sasaran utama bagi nelayan sekitar wilayah tersebut. Ekosistem didaerah perairan sepanjang kepulauan spermonde ini lah yang menjadi pembahasan yang menarik di kalangan para aktivis lingkungan. Tak sadar, kerusakan terumbu karang di daerah tersebut hampir meningkat tiap tahun nya. Adapun sebab dari kerusakan tersebut lahir dari banyaknya oknum – oknum kegiatan illegal fishing yang menggunaka cara – cara tidak etis dalam penangkapan ikan. Perubahan pola pikir manusia dari ranah idealis ke ranah praktis yang membuat kehancuran biota laut di perairan spermonde. Maka diperlukan metode penangkapan ikan dengan cara efektif untuk menaggulangi problematika yang terjadi. Pancing ulur hanyut sebagai metode penangkapan ikan yang berbasis kearifan lokal ini  yang perlu disuarakan guna melestarikan kebudayaan setempat serta mengambalikan pola pikir masyarakat terkait proses pelestarian alam khususnya daerah perairan kepulauan spermonde.

 

Kata Kunci : Kepulauan Spermonde, Terumbu Karang, Pancing Ulur Hanyut

·         Pendahuluan

Kehidupan era globalisasi ini telah mengubah mindset manusia untuk selalu melakukan perubahan yang bersifat revolusioner. Perubahan ini yang mengakibatkan tatanan masyarakat mengalami pergeseran nilai dalam kehidupan social. Perkembangan kebudayaan setempat dari penjuru negeri nyaris hilang di telan oleh konsekuensi yang di lahirkan dari perkembangan era globalisasi saat ini. Kearifan local yang menjadi salah satu tongkat dasar kehidupan masyarakat mulai pudar karena banyak nya pengaruh eksternal yang mulai menggantikan peran dan fungsi budaya. Kecenderungan masyarakat pragmatis seolah – olah menjadi salah satu dasar mengapa kebudayaan mulai memudar. Oleh karena itu di perlukan sebuah inovasi baru yang menghebatkan kearifan local agar meningkatkan sumber daya manusia yang berbudi luhur pekerti dalam menghadapi era globalisasi.

 

Manusia merupak an komponen penting dalam lingkungan Laut termasuk lingkungan, maka karakter manusia begitu penting terhadap laut. Laut merupakan sumber daya yang bersifat open acces sehingga siapaun dapat mengaksesnya. Bidang kelautan merupakan bidang yang sangat menjanjikan dalam pembangunan nasional masa depan. Bidang kelautan merupakan usaha yang meliputi sektor perikanan laut, pariwisata bahari, pertambangan laut, industri maritim, perhubungan laut, bangunan kelautan dan jasa kelautan yang menjadi sektor andalan. Meskipun demikian pada kenyataannya belum dikelola dan dimanfaatkan secara optimal. Artinya masih berpeluang untuk dimanfaatkan secara lebih intensif dan dijadikan sebagai harapan dan andalan dalam pembangunan ekonomi nasional masa depan. Oleh karena itu laut dapat di fungsikan oleh nelayan sebagai mata pencaharian yakni salah satunya pengkapan ikan. Nelayan adalah bagian dari profesi masyarakat dengan angka yang cukup tinggi. Inovasi yang berbasis kearifan local dalam sektor perikanan khususnya kegiatan penangkapan ikan yakni pancing ulur hanyut  yang mampu memberikan kontribusi penuh untuk menjaga dan melestarikan keberlangsungan ekosistem laut utamanya terumbu karang.

Kepualauan Spermonde adalah salah satu daerah yang mempunyai keaneka ragaman yang melimpah khususnya  terumbu karang. Kepulauan Spermonde (Spermonde shelf) terdapat di bagian selatan Selat Makassar, tepatnya di pesisir barat daya Pulau Sulawesi. Sebaran pulau karang yang terdapat di Kepulauan Spermonde terbentang dari utara ke selatan sejajar pantai daratan Pulau Sulawesi (Van Vuuren, 1920a,b. dalam de Klerk, 1983) . Kepulauan yang memiliki luas kurang  lebih 150 KM ini terdiri dari 120 pulau, dengan sumber kekayaan biota lautnya yang sangat beragam dan sangat berpotensi untuk dikembangkan dalam penguatan dan pemberdayaan manusia nya. Selat Makassar memiliki gugusan pulau-pulau kecil di antaranya adalah  Kepulauan Spermonde yang terletak di sebelah barat Sulawesi Selatan yang masuk wilayah Kota Makassar, Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep, selain itu terdapat pulau-pulau kecil di Kabupaten Barru.

Kegiatan mata pencaharian masyarakat di kepulauan spermonde cenderung menjadi nelayan, kegiatan penangkapan ikan yang sehari – hari inilah membuat mereka mampu bertahan hidup. Tetapi, banyak oknum – oknum tertentu khususnya para nelayan yang mempunyai kapasitas penangkapan ikan skala besar, melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan hasil penangkapan ikan yang melimpah. Salah satu cara yang di haramkan dalam regulasi penangkapan ikan di Indonesia adalah illegal fishing. Illegal fishing merupakan masalah klasik yang sering dihadapi oleh negara yang memiliki banyak pantai karena masalah tersebut sudah ada sejak lampau. Namun hingga sekarang masalah illegal fishing masih belum dapat di selesaikan dengan baik. Kegiatan illegal fishing terkhusus yang sering terjadi dalam kepulauan spermonde yakni kegiatan penangkapan yang dilakukan  nelayan seperti  menggunakan bahan peledak, bahan beracun dan menggunakan alat tangkap trawl, bertentangan dengan kode etik penangkapan, oleh karena itu Indonesia seharusnya tidak memerlukan kapal-kapal besar untuk berburu ikan hingga ke laut lepas karena di pesisir pun ikan tak pernah habis sepanjang penangkapannya tidak berlebih dan merusak. Kegiatan illegal fishing di kepulauan spermonde berdampak besar dengan banyaknya kerusakan terumbu karang yang ada di dasana. Kerusakan tersebut mengakibatkan hilangnya ekosistem ikan – ikan karang dan tentunya ekologi laut lain nya.

Dari permasalahan diatas, pengelolaan sumber daya ikan dan lingkungan tidak dapat dipisahkan. Maka perlu adanya suatu metode atau Konsep yang dapat memberikan kontribusi terhadap sumber daya ikan dan lingkungan khususnya ekosistem terumbu karang di kepulauan spermonde. Metode  kearifan lokal dengan menggunakan pancing ulur hanyut  merupakan solusi untuk menjawab permasalahan diatas.

Pembahasan

Kearifan Lokal

Tradisi merupakan akar dari kebudayaan yang biasa menjadi sebuah kondisi yang aman dan nyaman bagi masyarakatnya untuk melalkukan berbagai kegiatan dalam kehidupan sehari-sehari, hal tersebut dapat kita temui bahwa tradisi merupakan unsur penting dalam kehidupan manusia meskipun peradaban dan berbagai kondisi kehidupan telah berubah namun hal tersebut tidak akan dengan cepat mengubah kebiasaan atau tradisi asalnya. Proses perwarisan Kebudayaan terlaksana dalam waktu yang sangat lama, generasi dan mengalami perubahan-perubahan ada yang punah ada yang menjelma dalam bentuk lain,ini merupakan perubahan kebudayaan dan perkembangan kebudayaan.

Kata “Kebudayaan” berasal dari bahasa sansekerta buddhyiah, yaitu bentuk jamak dari buddi berarti “budi atau akal”. Dengan demikian kebudayaan dapat diartikan : “hal-hal yang bersangkutan dengan akal. Menurut E. B.Tylor seorang ahli antropologi dalam buku berjudul “primitive culture” , kebudayaan adalah keseluruhan kompleks yang didalamnya terkandung ilmu pengetahuan yang lain,serta kebiasaan yang didapat manusia sebagai anggota masyarakat.

Kearifan lokal secara konsepsual merupakan bagian dari kebudayaan yang telah dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat setempat. Haryati Subadio mengatakan bahwa kearifan lokal secara keseluruhan dapat dianggap sebagai cultural identity yang dapat diartikan sebagai identitas atau kepribadian budaya suatu budaya bangsa. Identitas kultur mampu di rabah melalui kearifan lokal masyarakat tersebut, karena menurut Haryati Subadjo identitas  suatu bangsa dapat dilihat dari kearifan lokal dari bangsa tersebut.

Menurut pandangan dari Mundardjito bahwa kearifan lokal terbina secara kumulatif, terbentuk secara evolusioner, bersifat tidak abadi, dapat menyusut, dan tidak selamanya tampak jelas secara lahiriah. Kita melihat kearifan lokal merupakan suatu perilaku yang dilakukan secara kumulatif yang dilakukan  secara regenerasi, akan tetapi ia tak bersifat abadi bisa saja kearifan  lokal tersebut dapat berubah seiring perkembangan zaman yang ada, dan tidak selalu terlihat dalam bentuk lahirah bisa saja dalam bentuk selain dari bentuk lahiriah.

Sementara menurut Poespowardojo, ia menjelaskan kearifan lokal melalui dzat dan sifatnya. Menrutnya kearifan lokal ada 5 bentuk hakikinya, yaitu mampu bertahan terhadap budaya luar., memiliki kemampuan mengakomodasi unsur-unsur budaya luar, mempunyai kemampuan berintegrasi unsur-unsur budaya luar ke dalam kebudayaan asli, mampu mengendalikan, dan mampu memberikan arah pada perkembangan  budaya. Kearifan lokal juga dapat dimaknai sebagai kebijakan manusia dan kumpulan komunitas yang bersandanr dengan nilai-nilai filosofis, etika, cara-cara, dan perilaku yang telah terbentuk secara tradisional yang dapat mengelola berbagai sumber daya alam, sumber daya hayati, sumber daya manusia, dan sumber daya budaya untuk menjaga kelestarian sumber daya sehingga terjadinya kelangsungan yang berkelanjutan. Sumber daya alam juga diyakni telah lahir mendahului kelahiran negara. Oleh sebab itu,  sepatututnya alam selalu di jaga dan di lestarikan.

Motif Masyarakat Kepulauan Spermonde

Dari defiinisi diatas maka daerah manapun  di Indonesia meiliki yang namanya kearfian lokal, khususnya didaerah Kepulauan Spermonde. Kepulauan Spermonde merupakan salah satu kepualauan yang ada di Sulawesi Selatan. Kepulauan Spermonde merupakan sekelompok sekitar 120 pulau di lepas pantai barat daya Sulawesi Selatan yang terletak di Segitiga Terumbu Karang antara lengkungan selatan Sulawesi dan Selat Makassar. Terletak di barat Makassar, kepulauan tersebut memiliki luas sekitar 2,500 km2, dan terdiri dari sekitar 50 pulau tervegetasi dan 70 gundukan pasir tak tervegetasi.  Sekitar 50 pulau ditinggali, secara kolektif menampung sekitar 50.000 orang. Dengan begitu, Kepulauan Spermonde berpotensi untuk membudidayakan terumbu karang, sebagai salah satu unsur penting bagi biota laut.

Untuk membudidayakan terumbu karang perlu adanya keterlibatan masyarakat pesisir setempat. Masyarakat pesisir merupakan suatu komunitas yang unik, yang memiiki wujud dan unsur kebudayaan yang spesifik, antara masyarakat pesisir di satu wilayah dengan wilayah lainnya.

Kearifan lokal yang masih terjaga sampai saat ini di Kepulauan Spermonde yakni adanya konsep keluarga nelayan. Nelayan adalah sumber daya paling besar yang memanfaatkan sumber-sumber kekuatan untuk kelangusngan hidup masyarakat pesisir. Memanfaatkan sumber daya kelautan para nelayan melakukan stragei-stragi penyesuaian        terhadap lingkungan diantaraya pengetahuan teknologi penagkapan ikan yang dimiliki masyarakat setempat.

Dalam masyarakat pesisir di Kepulauan Spermonde juga terdapat 5 macam pembagian menganai status nelayan yaitu punggawa lompo, yaitu nelayan yang mempunyai kapal sehingga mempekerjakan nelayan lain sebagai buruh nelayan tanpa ia harus ikut bekerja, punggawa caddi, yaitu  nelayan yang memiliki kapaltetapi ia sendiri masih ikut bekerja sebagai awak kapal, juru tulis, yaitu  nelayan  yang  kebutuhan  hidupnya  dapat  ditutup  dengan  pendapatan pokoknya dari bekerja sebagai nelayan, dan memiliki perahu tanpa mempekerjakakan tenaga dari luar keluarga, pa’palele, yaitu elayan  yang  pendapatan dari  perahunya  tidak  mencukupi kebutuhan hidupnya sehingga harus ditambah dengan bekerja lain, baik untuk ia sendiri atau untuk istri dan anak-anaknya, pa’bissa, yaitu bekas nelayan yang pekerjaannya memperbaiki jaring yang sudah rusak. Inilah 5 macam status nelayan yang sampai saat ini yang menjadi salah satu kearfian lokal bagi masyarakat pesisir di kepulauan spermonde.

 Local Wisdom Pancing Ulur Hanyut

Pancing adalah suatu alat penangkap ikan yang terdiri dari mata pancing dan tali atau tanpa umpan dengan memancing ikan target sehingga tertangkap pada mata pancing, salah satu jenis alat tangkap yang berbasis kearipan lokal yang digunakan oleh nelayan untuk memancing adalah pancing ulur (hand line). Dari semua kelompok alat tangkap pancing, maka hand line merupakan pancing yang sangat sederhana. Alat ini hanya terdiri dari tali pancing, pancing dan umpan. Kemudian operasionalnya sangat sederhana karena bisa dilakukan oleh seorang pemancing. Jumlah mata pancing bisa satu buah, bisa juga lebih, bisa menggunakan umpan asli dan umpan palsu. Pemancingan dapat dilakukan di rumpon dan perairan lainnya.

Pada pancing ulur mata pancing (hook) merupakan bagian yang sangat vital dalam proses penangkapan ikan pada alat tangkap pancing. Pancing Ulur termasuk alat penangkap ikan yang aktif, dan juga ramah lingkungan. Pengoperasian alat relatif sederhana,  tidak banyak menggunakan peralatan bantu seperti halnya alat tangkap pukat ikan dan pukat cincin. Teknologi yang berkembang pada pancing ulur  yakni adanya penggantian tenaga manusia ke tenaga mesin. Pancing ulur digunakan secara mudah dengan cara mengulur tali pancing sampai kedalaman perairan ditempat operasinya dan sambil diangkat dan diturunkan dengan tangan. Jenis ikan yang sering tertangkap dengan pancing ulur  memiliki ukuran ikan yang tidak seragam seperti: cakalang, kembung, layang, bawal, kakap, dan kerap kali juga ikan yang berukuran besar juga tertangkap seperti hiu, tuna, dan lain sebagainya.

Pancing ulur merupakan alat penangkap ikan yang bersifat aktif, menunggu  ikan  yang  dating memakan  umpan  pada  mata  pancing. Alat penangkap ikan jenis pancing ulur dioperasikan disemua jenis perairan dan biasanya diulur sampai kedalaman yang dikehendaki. Sambil dipegang dengan tangan, tali pancing diturun-naikan sampai terasa ada sesuatu yang tersangkut dimata pancing. Kemudian ditarik atau diangkat ke kapal untuk melihat hasil tangkapan ikan yang “tersangkut” pada mata pancing.

Oleh karenya pancing ulur sebagai metode kearifan lokal masyarakat pesisir dapat digunakan sebagai alat mata pencaharian para nelayan yang telah dilakukan secara turun temurun dan dilestarikan sebagai kearfian lokal masyarakat pesisir di kepulauan Spemonde.

Efektivitas Metode Penangkapan Ikan dengan Menggunakan Pancing Ulur Hanyut bagi Terumbu Karang  

Di era pragmatis ini sering kali kita melihat adanya pengeksploitasian sumber daya laut yang sangat berlebihan, sehingga mengakibatkan banyaknya keruskaan terhadap ekosistem laut. Pemanfaatan sumber daya laut yang berlebihan khusunya terumbu karang. Penyebab dari adanya pemanfaatan yang berlebihan akibat dari kesalahan pola pikir dan pola tindak manusia dalam menyikapi alam dan mengelola berbagai energi dan materi yang ada di dalamnya telah membawa tragedi kemanusiaan dan terjadinya krisis lingkungan yang berkelanjutan. Saat ini, luasan terumbu karang di Indonesia mencapai 2,5 juta hektare atau mencapai 14 persen dari total luasan terumbu karang di dunia.

Oleh karena itu, habitat  terumbu karang harus terus dibudidayakan dan dijaga terus kelestariannya. Di Kepualaun Spermonde terdapat penurunan terhadap ekosistem terumbu karang, menurut Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam laporannya tahun 2018, LIPI mengukur tingkat kesehatan terhadap 18 lokasi terumbu karang dengan rentang nilai 1-10. Indeks kesehatan ini menggambarkan kondisi terumbu karang yang meliputi tutupan karang, potensi pemulihan, dan biomassa ikan. Dan hasilnya, kesehatan terumbu karang di perairan Spermonde Makassar dinilai rendah, dalam rentang skala 1-3. Data ini menunjukkan banyak nya perusakan terumbu karang di kepuluan spermonde.

Penyebab dari adanya pemanfaatan yang berlebihan akibat dari kerakusan  dalam  pengeksploitasian alam dan mengelola berbagai energi dan materi yang ada di dalamnya telah  membawa tragedi kemanusiaan dan terjadinya krisis lingkungan yang berkelanjutan. Salah satunya yang menyebabkan terjadinya krisis lingkungan pada ekosistem terumbu karang yakni illegal  fishing.  Illegal  fihsing merupakan kegiatan penangkapan ikan dengan tujuan menangkap sebanyak-banyaknya ikan  yang banyak namun dengan etika penangkapan yang salah, karena kegiatan penangkapan yang dilakukan semata-mata memberikan keuntungan hanya untuk nelayan tersebut, dan berdampak kerusakan untuk ekosistem karang. Kegiatan yang umumnya dilakukan nelayan dalam melakukan penangkapan dan yang di kategorikan illegal fishing adalah penggunaan alat tangkap yang dapat merusak ekosistem seperti kegiatan penangkapan dengan pemboman, penangkapan dengan menggunakan racun serta penggunaan alat tangkap trawl pada daerah yang memiliki karang.

Untuk meningkatkan kelestarian terumbu karang di kepulauan Spemonde, diperlukan aksi dari masyarakat pesisir setempat, dengan menggunakan metode kearifan lokal masyarakat pesisir di Kepulauan Spermonde, yakni pancing ulur hanyut sebagai kearifan lokal masyarakat peisir Kepulauan Spermonde. Teknologi kearifan lokal tersebut dapat memberikan dampak yang besar terhadap kelestarian terumbu karang, sehingga mampu memberikan dampak positif terhadap ekosistem biota laut.

KESIMPULAN

Dari pembahasan jurnal di atas, maka saya bisa menyimpulkan bahwa kearifan lokal merupakan suatu tindakan yang dilakukan secara kumulatif yang dilakukan turun temurun, akan tetapi ia tak bersifat abadi bisa saja kearifan  lokal tersebut dapat berubah sesuai perkembangan zaman yang ada, dan tidak selalu terlihat dalam bentuk lahirah bisa saja dalam bentuk selain dari bentuk lahiriah.

Kearifan  lokal masyarakat pesisir di Kepulauan pesisir Spermonde, yakni adanya status nelayan yang masib terjaga sampai saat ini yakni punggawa lompo, punggawa caddi, juru tulis, pa’palelle, pa’bissa. Kearifan lokal masyarakat peisisr di Kepulauan Spermonde yakni pancing ulur hanyut, inilah salah  satu metode kearifan lokal yang digunakan untuk menangkap ikan, sebagai salah satu  mata pencaharian masyarakat pesisir di Kepulauan Spermonde.

Pancing ulur hanyut sebagai salah satu metode masyarakat pesisir di Kepulauan Spermonde dapat berdampak besar bagi ekosistem yang ada di laut, khususnya terumbu karang, dimana terumbu karang tersebut dapat dijadikan sebagai objek wisata bagi para wisatan, sehingga dapat memperkenalkan keindahan alam yang dimiliki Indonesia, khsusnya di Kepulauan Spermonde.

Daftar Pustaka

BUKU :

Aminah Siti, Narni Farmayanti. 2014. Pemberdayaan Sosial Petani-Nelayan, Keunikan  Agroekosistem, dan Daya Saing, Jakarta: Yayasan Pusataka Obor Indonesia.

Baskoro, Mulyono S, Roza Yusfiandayani. 2017. Metode Penangkapan Ikan,  Kota Bogor: IPB  Press.

Hasan, Yulia A. 2020 Hukum Laut Konservasi Sumber Daya Ikan di Indonesia, Jakarta:  Kencana.

H.A.R. Tilaar. 2007. Mengindonesia Etnisitas dan Identitas Bangsa Indonesia  Tinjauan dari  Perspektif Ilmu Pendidikan.  Jakarta: Rineka Cipta.

I Gede Semadi Astra. 2004 “Revitalisasi Kearifan Lokal dalam  Memperkokoh  Jati  Diri Bangsa di Era Global” dalam I Wayan Ardika dan Darma  Putra (ed). Politik  Kebudayaan dan Identitas Etnik, Denpasar:  Fakultas Sastra  Universitas  Udayana dan Balimangsi Press.

Kementrian  Kelautan dan Perikanan Rpublik Indonesia. 2018. Laut Masa Depan Bangsa,  Jakarta: Buku Kompas

Koentjaraningrat. 1980. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, Jakarta:  Djambatan.

Mallawa.A dan Sudirman. 2004. Teknik Penangkapan Ikan. Jakarta :  Rineka Cipta

Marfai, Muh Aris. 2013. Pengantar Etika Lingkungan dan Kearifan Lokal, Yogyakarta:  Gadjah Mada  University Press.

Nasruddin, dkk. 2011. Buku Kearifan Lokal di Tengah Modernisasi, Jakarta : Pusat  Penelitian  dan Pengembangan Kebudayaan Badan Pengembangan Sumber  Daya Kebudayaan  dan Pariwisata Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata  Republik Indonesia.

Nonci, 2006. konsep- konsep budaya masyarakat.. Makassar : CV AKSARA

Prof. Dr. Sonny Koeshendrajana, M.Sc. Prof. Dr. I Wayan Rusastra, dan  M.S. Purwito Martosubroto, B.Sc., M.Sc., Ph.D. 2019. POTENSI SUMBER DAYA KELAUTAN DAN PERIKANAN WPPNRI 713. Jakarta Pusat. AMAFRAD Press

Rahardjo Adisasmita. 2015. Pembangunan Wilayah: Kelautan-Maritim, Kepulauan, Wilayah-Wilayah Terisolasi, Tepencil, Tertinggal, Perbatasan, Pesisir, dan Pulau-pulau Kecil, Ekonomi Archipelago dan Kawasan Semeja.Yogyakarta : Graha Ilmu.

Rifal. 2017. Modernisasi dan Ekonomi Masyarakat Nelayan di Kampung Gusung Kotamadya  Ujung Pandang Tahun 1954-1998, Depok: Universitas Indonesia.

Saptomo Ade. 2010. Hukum dan Kearifan Lokal, Jakarta: PT Grasindo.

Suardi, dkk. 2018. Desain dan Aplikasi Rumpon Hidup (Bio FAD), Kota Bogor:  IPB  Press.

 

 

Jurnal :

Mansyur Khumairah, Umrah, Rifal, (2019). “Budaya Pendidikan Anak Pesisir di  Wilayah  Kepulauan  Spermonde”, Jurnal Pemikiran dan  Pengembangan   Pembelajaran Vol. 1 No. 2.

 

Tesis :

de Klerk, L.G. de., 1983. Zeespigel Riffen en Kustflakten in Zuitwest Sulawesi, Indonesia, PhD Thesis Utrecht Netherland

Internet :

Ambari M. 2020. “Bagaimana Mengelola Ekosistem Pesisir yang Tepat dan  Berkelanjutan?”, diakses dari  https://www.mongabay.co.id/2020/08/12/bagaimana-mengelola ekosistem-pesisir-yang-tepat-dan-berkelanjutan/, (di akses pada tanggal 29 Mei 2021).

Pranata Aan. 2019. “Greenpeace: Marak Perusakan Terumbu Karang di Spermonde Makassar”, diakses dari https://sulsel.idntimes.com/news/sulsel/aanpranata/greenpeace-marakperusakan-terumbu-karang-di-spermonde-makassar/3, (di akses pada tanggal 28 Mei 2021). 


 

Komentar

Postingan Populer