PENGUATAN KEBUDAYAAN PANCING ULUR HANYUT DALAM PENGEMBANGAN MASYARAKAT PESISIR KEPULAUAN SPERMONDE
Abstrak
Pemanfaatan sumber daya
laut adalah hal yang menjadi prioritas bagi masyarakat pesisir khususnya di
kepulauan spermonde. Kepulauan spermonde yang memiliki keaneka ragaman biota
laut ini menjadi sasaran utama bagi nelayan sekitar wilayah tersebut. Ekosistem
didaerah perairan sepanjang kepulauan spermonde ini lah yang menjadi pembahasan
yang menarik di kalangan para aktivis lingkungan. Tak sadar, kerusakan terumbu
karang di daerah tersebut hampir meningkat tiap tahun nya. Adapun sebab dari
kerusakan tersebut lahir dari banyaknya oknum – oknum kegiatan illegal fishing
yang menggunaka cara – cara tidak etis dalam penangkapan ikan. Perubahan pola pikir
manusia dari ranah idealis ke ranah praktis yang membuat kehancuran biota laut
di perairan spermonde. Maka diperlukan metode penangkapan ikan dengan cara
efektif untuk menaggulangi problematika yang terjadi. Pancing ulur hanyut
sebagai metode penangkapan ikan yang berbasis kearifan lokal ini yang perlu disuarakan guna melestarikan
kebudayaan setempat serta mengambalikan pola pikir masyarakat terkait proses
pelestarian alam khususnya daerah perairan kepulauan spermonde.
Kata Kunci : Kepulauan Spermonde, Terumbu Karang, Pancing Ulur Hanyut
·
Pendahuluan
Kehidupan
era globalisasi ini telah mengubah mindset manusia untuk selalu melakukan
perubahan yang bersifat revolusioner. Perubahan ini yang mengakibatkan tatanan
masyarakat mengalami pergeseran nilai dalam kehidupan social. Perkembangan
kebudayaan setempat dari penjuru negeri nyaris hilang di telan oleh konsekuensi
yang di lahirkan dari perkembangan era globalisasi saat ini. Kearifan local
yang menjadi salah satu tongkat dasar kehidupan masyarakat mulai pudar karena
banyak nya pengaruh eksternal yang mulai menggantikan peran dan fungsi budaya.
Kecenderungan masyarakat pragmatis seolah – olah menjadi salah satu dasar
mengapa kebudayaan mulai memudar. Oleh karena itu di perlukan sebuah inovasi
baru yang menghebatkan kearifan local agar meningkatkan sumber daya manusia
yang berbudi luhur pekerti dalam menghadapi era globalisasi.
Manusia
merupak an komponen penting dalam lingkungan Laut termasuk lingkungan, maka
karakter manusia begitu penting terhadap laut. Laut merupakan sumber daya yang
bersifat open acces sehingga siapaun dapat mengaksesnya. Bidang kelautan
merupakan bidang yang sangat menjanjikan dalam pembangunan nasional masa depan.
Bidang kelautan merupakan usaha yang meliputi sektor perikanan laut, pariwisata
bahari, pertambangan laut, industri maritim, perhubungan laut, bangunan
kelautan dan jasa kelautan yang menjadi sektor andalan. Meskipun demikian pada
kenyataannya belum dikelola dan dimanfaatkan secara optimal. Artinya masih
berpeluang untuk dimanfaatkan secara lebih intensif dan dijadikan sebagai
harapan dan andalan dalam pembangunan ekonomi nasional masa depan. Oleh karena itu laut dapat di
fungsikan oleh nelayan sebagai mata pencaharian yakni salah satunya pengkapan
ikan. Nelayan adalah bagian dari profesi masyarakat dengan angka yang cukup
tinggi. Inovasi yang berbasis
kearifan local dalam sektor perikanan khususnya kegiatan penangkapan ikan yakni
pancing ulur hanyut yang mampu
memberikan kontribusi penuh untuk menjaga dan melestarikan keberlangsungan
ekosistem laut utamanya terumbu karang.
Kepualauan
Spermonde adalah salah satu daerah yang mempunyai keaneka ragaman yang melimpah
khususnya terumbu karang. Kepulauan
Spermonde (Spermonde shelf) terdapat di bagian selatan Selat Makassar, tepatnya
di pesisir barat daya Pulau Sulawesi. Sebaran pulau karang yang terdapat di
Kepulauan Spermonde terbentang dari utara ke selatan sejajar pantai daratan Pulau
Sulawesi (Van Vuuren, 1920a,b. dalam de Klerk, 1983) . Kepulauan yang memiliki luas kurang lebih 150 KM ini terdiri dari 120 pulau,
dengan sumber kekayaan biota lautnya yang sangat beragam dan sangat berpotensi
untuk dikembangkan dalam penguatan dan pemberdayaan manusia nya. Selat Makassar
memiliki gugusan pulau-pulau kecil di antaranya adalah Kepulauan Spermonde yang terletak di sebelah
barat Sulawesi Selatan yang masuk wilayah Kota Makassar, Kabupaten Maros dan
Kabupaten Pangkep, selain itu terdapat pulau-pulau kecil di Kabupaten Barru.
Kegiatan mata pencaharian masyarakat di
kepulauan spermonde cenderung menjadi nelayan, kegiatan penangkapan ikan yang
sehari – hari inilah membuat mereka mampu bertahan hidup. Tetapi, banyak oknum
– oknum tertentu khususnya para nelayan yang mempunyai kapasitas penangkapan
ikan skala besar, melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan hasil
penangkapan ikan yang melimpah. Salah satu cara yang di haramkan dalam regulasi
penangkapan ikan di Indonesia adalah illegal fishing. Illegal
fishing merupakan masalah klasik yang sering dihadapi oleh negara yang memiliki
banyak pantai karena masalah tersebut sudah ada sejak lampau. Namun hingga
sekarang masalah illegal fishing masih belum dapat di selesaikan dengan baik.
Kegiatan illegal fishing terkhusus yang sering terjadi dalam kepulauan
spermonde yakni kegiatan penangkapan yang dilakukan nelayan seperti menggunakan bahan peledak, bahan beracun dan
menggunakan alat tangkap trawl, bertentangan dengan kode etik penangkapan, oleh
karena itu Indonesia seharusnya tidak memerlukan kapal-kapal besar untuk
berburu ikan hingga ke laut lepas karena di pesisir pun ikan tak pernah habis
sepanjang penangkapannya tidak berlebih dan merusak.
Kegiatan illegal fishing
di kepulauan spermonde berdampak besar dengan banyaknya kerusakan terumbu
karang yang ada di dasana. Kerusakan tersebut mengakibatkan hilangnya ekosistem
ikan – ikan karang dan tentunya ekologi laut lain nya.
Dari permasalahan diatas, pengelolaan sumber daya ikan dan lingkungan tidak dapat dipisahkan. Maka perlu adanya suatu metode atau Konsep yang dapat memberikan kontribusi terhadap sumber daya ikan dan lingkungan khususnya ekosistem terumbu karang di kepulauan spermonde. Metode kearifan lokal dengan menggunakan pancing ulur hanyut merupakan solusi untuk menjawab permasalahan diatas.
Pembahasan
Kearifan Lokal
Tradisi
merupakan akar dari kebudayaan yang biasa menjadi sebuah kondisi yang aman dan
nyaman bagi masyarakatnya untuk melalkukan berbagai kegiatan dalam kehidupan
sehari-sehari, hal tersebut dapat kita temui bahwa tradisi merupakan unsur
penting dalam kehidupan manusia meskipun peradaban dan berbagai kondisi
kehidupan telah berubah namun hal tersebut tidak akan dengan cepat mengubah
kebiasaan atau tradisi asalnya. Proses perwarisan Kebudayaan terlaksana dalam
waktu yang sangat lama, generasi dan mengalami perubahan-perubahan ada yang
punah ada yang menjelma dalam bentuk lain,ini merupakan perubahan kebudayaan
dan perkembangan kebudayaan.
Kata
“Kebudayaan” berasal dari bahasa sansekerta buddhyiah, yaitu bentuk jamak dari
buddi berarti “budi atau akal”. Dengan demikian kebudayaan dapat diartikan :
“hal-hal yang bersangkutan dengan akal. Menurut E. B.Tylor seorang ahli
antropologi dalam buku berjudul “primitive culture” , kebudayaan adalah
keseluruhan kompleks yang didalamnya terkandung ilmu pengetahuan yang lain,serta
kebiasaan yang didapat manusia sebagai anggota masyarakat.
Kearifan
lokal secara konsepsual merupakan bagian dari kebudayaan yang telah dilakukan
secara turun temurun oleh masyarakat setempat. Haryati Subadio mengatakan bahwa
kearifan lokal secara keseluruhan dapat dianggap sebagai cultural identity yang
dapat diartikan sebagai identitas atau kepribadian budaya suatu budaya bangsa. Identitas
kultur mampu di rabah melalui kearifan lokal masyarakat tersebut, karena
menurut Haryati Subadjo identitas suatu bangsa
dapat dilihat dari kearifan lokal dari bangsa tersebut.
Menurut
pandangan dari Mundardjito bahwa kearifan lokal terbina secara kumulatif,
terbentuk secara evolusioner, bersifat tidak abadi, dapat menyusut, dan tidak
selamanya tampak jelas secara lahiriah. Kita melihat kearifan lokal merupakan
suatu perilaku yang dilakukan secara kumulatif yang dilakukan secara regenerasi, akan tetapi ia tak
bersifat abadi bisa saja kearifan lokal
tersebut dapat berubah seiring perkembangan zaman yang ada, dan tidak selalu
terlihat dalam bentuk lahirah bisa saja dalam bentuk selain dari bentuk
lahiriah.
Sementara
menurut Poespowardojo, ia menjelaskan kearifan lokal melalui dzat dan sifatnya.
Menrutnya kearifan lokal ada 5 bentuk hakikinya, yaitu mampu bertahan terhadap
budaya luar., memiliki kemampuan mengakomodasi unsur-unsur budaya luar,
mempunyai kemampuan berintegrasi unsur-unsur budaya luar ke dalam kebudayaan
asli, mampu mengendalikan, dan mampu memberikan arah pada perkembangan budaya.
Kearifan lokal juga dapat dimaknai sebagai kebijakan manusia dan kumpulan
komunitas yang bersandanr dengan nilai-nilai filosofis, etika, cara-cara, dan
perilaku yang telah terbentuk secara tradisional yang dapat mengelola berbagai
sumber daya alam, sumber daya hayati, sumber daya manusia, dan sumber daya
budaya untuk menjaga kelestarian sumber daya sehingga terjadinya kelangsungan
yang berkelanjutan. Sumber daya alam juga diyakni telah lahir mendahului
kelahiran negara. Oleh sebab itu,
sepatututnya alam selalu di jaga dan di lestarikan.
Motif Masyarakat
Kepulauan Spermonde
Dari defiinisi diatas maka daerah manapun di Indonesia meiliki yang namanya kearfian
lokal, khususnya didaerah Kepulauan Spermonde. Kepulauan Spermonde merupakan
salah satu kepualauan yang ada di Sulawesi Selatan. Kepulauan Spermonde
merupakan sekelompok sekitar 120 pulau di lepas pantai barat daya Sulawesi
Selatan yang terletak di Segitiga Terumbu Karang antara lengkungan selatan
Sulawesi dan Selat Makassar. Terletak di barat Makassar, kepulauan tersebut
memiliki luas sekitar 2,500 km2, dan terdiri dari sekitar 50 pulau tervegetasi
dan 70 gundukan pasir tak tervegetasi.
Sekitar 50 pulau ditinggali, secara kolektif menampung sekitar 50.000
orang. Dengan begitu, Kepulauan Spermonde berpotensi untuk membudidayakan
terumbu karang, sebagai salah satu unsur penting bagi biota laut.
Untuk membudidayakan terumbu karang perlu
adanya keterlibatan masyarakat pesisir setempat. Masyarakat pesisir merupakan
suatu komunitas yang unik, yang memiiki wujud dan unsur kebudayaan yang
spesifik, antara masyarakat pesisir di satu wilayah dengan wilayah lainnya.
Kearifan lokal yang masih terjaga sampai saat
ini di Kepulauan Spermonde yakni adanya konsep keluarga nelayan. Nelayan adalah
sumber daya paling besar yang memanfaatkan sumber-sumber kekuatan untuk kelangusngan
hidup masyarakat pesisir. Memanfaatkan
sumber daya kelautan para nelayan melakukan stragei-stragi penyesuaian terhadap
lingkungan diantaraya pengetahuan teknologi penagkapan ikan yang dimiliki
masyarakat setempat.
Dalam
masyarakat pesisir di Kepulauan Spermonde juga terdapat 5 macam pembagian
menganai status nelayan yaitu punggawa lompo, yaitu nelayan
yang mempunyai kapal sehingga mempekerjakan nelayan lain sebagai buruh nelayan
tanpa ia harus ikut bekerja, punggawa caddi, yaitu nelayan yang memiliki kapaltetapi ia sendiri
masih ikut bekerja sebagai awak kapal, juru tulis, yaitu nelayan
yang kebutuhan hidupnya
dapat ditutup dengan
pendapatan pokoknya dari bekerja sebagai nelayan, dan memiliki perahu
tanpa mempekerjakakan tenaga dari luar keluarga, pa’palele, yaitu elayan yang
pendapatan dari perahunya tidak
mencukupi kebutuhan hidupnya sehingga harus ditambah dengan bekerja
lain, baik untuk ia sendiri atau untuk istri dan anak-anaknya, pa’bissa, yaitu
bekas nelayan yang pekerjaannya memperbaiki jaring yang sudah rusak. Inilah 5
macam status nelayan yang sampai saat ini yang menjadi salah satu kearfian
lokal bagi masyarakat pesisir di kepulauan spermonde.
Local Wisdom Pancing Ulur Hanyut
Pancing
adalah suatu alat penangkap ikan yang terdiri dari mata pancing dan tali atau
tanpa umpan dengan memancing ikan target sehingga tertangkap pada mata pancing,
salah satu jenis alat tangkap yang berbasis kearipan lokal yang digunakan oleh
nelayan untuk memancing adalah pancing ulur (hand line). Dari semua kelompok alat tangkap pancing, maka
hand line merupakan pancing yang sangat sederhana. Alat ini hanya terdiri dari
tali pancing, pancing dan umpan. Kemudian operasionalnya sangat sederhana
karena bisa dilakukan oleh seorang pemancing. Jumlah mata pancing bisa satu
buah, bisa juga lebih, bisa menggunakan umpan asli dan umpan palsu. Pemancingan
dapat dilakukan di rumpon dan perairan lainnya.
Pada pancing ulur mata pancing (hook)
merupakan bagian yang sangat vital dalam proses penangkapan ikan pada alat
tangkap pancing. Pancing Ulur termasuk alat penangkap ikan yang aktif, dan juga
ramah lingkungan. Pengoperasian alat relatif sederhana, tidak banyak menggunakan peralatan bantu
seperti halnya alat tangkap pukat ikan dan pukat cincin. Teknologi yang
berkembang pada pancing ulur yakni
adanya penggantian tenaga manusia ke tenaga mesin. Pancing ulur digunakan
secara mudah dengan cara mengulur tali pancing sampai kedalaman perairan
ditempat operasinya dan sambil diangkat dan diturunkan dengan tangan. Jenis
ikan yang sering tertangkap dengan pancing ulur
memiliki ukuran ikan yang tidak seragam seperti: cakalang, kembung,
layang, bawal, kakap, dan kerap kali juga ikan yang berukuran besar juga
tertangkap seperti hiu, tuna, dan lain sebagainya.
Pancing ulur merupakan alat penangkap ikan
yang bersifat aktif, menunggu ikan yang
dating memakan umpan pada
mata pancing. Alat penangkap ikan
jenis pancing ulur dioperasikan disemua jenis perairan dan biasanya diulur
sampai kedalaman yang dikehendaki. Sambil dipegang dengan tangan, tali pancing
diturun-naikan sampai terasa ada sesuatu yang tersangkut dimata pancing. Kemudian
ditarik atau diangkat ke kapal untuk melihat hasil tangkapan ikan yang
“tersangkut” pada mata pancing.
Efektivitas Metode Penangkapan Ikan dengan
Menggunakan Pancing Ulur Hanyut bagi Terumbu Karang
Di era pragmatis ini sering kali kita melihat
adanya pengeksploitasian sumber daya laut yang sangat berlebihan, sehingga
mengakibatkan banyaknya keruskaan terhadap ekosistem laut. Pemanfaatan sumber
daya laut yang berlebihan khusunya terumbu karang. Penyebab dari adanya
pemanfaatan yang berlebihan akibat dari kesalahan pola pikir dan pola tindak
manusia dalam menyikapi alam dan mengelola berbagai energi dan materi yang ada
di dalamnya telah membawa tragedi kemanusiaan dan terjadinya krisis lingkungan
yang berkelanjutan. Saat ini, luasan terumbu karang di Indonesia mencapai 2,5
juta hektare atau mencapai 14 persen dari total luasan terumbu karang di dunia.
Oleh karena itu, habitat terumbu karang harus terus dibudidayakan dan
dijaga terus kelestariannya. Di Kepualaun Spermonde terdapat penurunan terhadap
ekosistem terumbu karang, menurut Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
dalam laporannya tahun 2018, LIPI mengukur tingkat kesehatan terhadap 18 lokasi
terumbu karang dengan rentang nilai 1-10. Indeks kesehatan ini menggambarkan
kondisi terumbu karang yang meliputi tutupan karang, potensi pemulihan, dan
biomassa ikan. Dan hasilnya, kesehatan terumbu karang di perairan Spermonde
Makassar dinilai rendah, dalam rentang skala 1-3. Data ini menunjukkan banyak
nya perusakan terumbu karang di kepuluan spermonde.
Penyebab dari adanya pemanfaatan yang
berlebihan akibat dari kerakusan
dalam pengeksploitasian alam dan
mengelola berbagai energi dan materi yang ada di dalamnya telah membawa tragedi kemanusiaan dan terjadinya
krisis lingkungan yang berkelanjutan. Salah satunya yang menyebabkan terjadinya
krisis lingkungan pada ekosistem terumbu karang yakni illegal fishing.
Illegal fihsing merupakan
kegiatan penangkapan ikan dengan tujuan menangkap sebanyak-banyaknya ikan yang banyak namun dengan etika penangkapan
yang salah, karena kegiatan penangkapan yang dilakukan semata-mata memberikan
keuntungan hanya untuk nelayan tersebut, dan berdampak kerusakan untuk
ekosistem karang. Kegiatan yang umumnya dilakukan nelayan dalam melakukan
penangkapan dan yang di kategorikan illegal fishing adalah penggunaan alat
tangkap yang dapat merusak ekosistem seperti kegiatan penangkapan dengan
pemboman, penangkapan dengan menggunakan racun serta penggunaan alat tangkap
trawl pada daerah yang memiliki karang.
KESIMPULAN
Dari pembahasan jurnal di atas, maka saya
bisa menyimpulkan bahwa kearifan lokal merupakan suatu tindakan yang dilakukan
secara kumulatif yang dilakukan turun temurun, akan tetapi ia tak bersifat
abadi bisa saja kearifan lokal tersebut
dapat berubah sesuai perkembangan zaman yang ada, dan tidak selalu terlihat
dalam bentuk lahirah bisa saja dalam bentuk selain dari bentuk lahiriah.
Kearifan
lokal masyarakat pesisir di Kepulauan pesisir Spermonde, yakni adanya
status nelayan yang masib terjaga sampai saat ini yakni punggawa lompo,
punggawa caddi, juru tulis, pa’palelle, pa’bissa. Kearifan lokal masyarakat
peisisr di Kepulauan Spermonde yakni pancing ulur hanyut, inilah salah satu metode kearifan lokal yang digunakan
untuk menangkap ikan, sebagai salah satu
mata pencaharian masyarakat pesisir di Kepulauan Spermonde.
Pancing ulur hanyut sebagai salah satu metode
masyarakat pesisir di Kepulauan Spermonde dapat berdampak besar bagi ekosistem
yang ada di laut, khususnya terumbu karang, dimana terumbu karang tersebut
dapat dijadikan sebagai objek wisata bagi para wisatan, sehingga dapat
memperkenalkan keindahan alam yang dimiliki Indonesia, khsusnya di Kepulauan
Spermonde.
Daftar
Pustaka
BUKU :
Aminah Siti, Narni
Farmayanti. 2014. Pemberdayaan Sosial Petani-Nelayan, Keunikan Agroekosistem, dan Daya Saing, Jakarta:
Yayasan Pusataka Obor Indonesia.
Baskoro, Mulyono S,
Roza Yusfiandayani. 2017. Metode Penangkapan Ikan, Kota Bogor: IPB Press.
Hasan, Yulia A. 2020
Hukum Laut Konservasi Sumber Daya Ikan di Indonesia, Jakarta: Kencana.
H.A.R. Tilaar. 2007.
Mengindonesia Etnisitas dan Identitas Bangsa Indonesia Tinjauan dari
Perspektif Ilmu Pendidikan.
Jakarta: Rineka Cipta.
I Gede Semadi Astra.
2004 “Revitalisasi Kearifan Lokal dalam
Memperkokoh Jati Diri Bangsa di Era Global” dalam I Wayan
Ardika dan Darma Putra (ed).
Politik Kebudayaan dan Identitas Etnik,
Denpasar: Fakultas Sastra Universitas
Udayana dan Balimangsi Press.
Kementrian Kelautan dan Perikanan Rpublik Indonesia.
2018. Laut Masa Depan Bangsa, Jakarta:
Buku Kompas
Koentjaraningrat.
1980. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, Jakarta: Djambatan.
Mallawa.A dan
Sudirman. 2004. Teknik Penangkapan Ikan. Jakarta : Rineka Cipta
Marfai, Muh Aris.
2013. Pengantar Etika Lingkungan dan Kearifan Lokal, Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Nasruddin, dkk. 2011.
Buku Kearifan Lokal di Tengah Modernisasi, Jakarta : Pusat Penelitian
dan Pengembangan Kebudayaan Badan Pengembangan Sumber Daya Kebudayaan dan Pariwisata Kementerian Kebudayaan dan
Pariwisata Republik Indonesia.
Nonci, 2006. konsep-
konsep budaya masyarakat.. Makassar : CV AKSARA
Prof. Dr. Sonny Koeshendrajana, M.Sc. Prof. Dr. I
Wayan Rusastra, dan M.S. Purwito
Martosubroto, B.Sc., M.Sc., Ph.D. 2019. POTENSI SUMBER DAYA KELAUTAN DAN PERIKANAN WPPNRI 713. Jakarta
Pusat. AMAFRAD Press
Rahardjo Adisasmita.
2015. Pembangunan Wilayah: Kelautan-Maritim, Kepulauan, Wilayah-Wilayah
Terisolasi, Tepencil, Tertinggal, Perbatasan, Pesisir, dan Pulau-pulau Kecil,
Ekonomi Archipelago dan Kawasan Semeja.Yogyakarta : Graha Ilmu.
Rifal. 2017.
Modernisasi dan Ekonomi Masyarakat Nelayan di Kampung Gusung Kotamadya Ujung Pandang Tahun 1954-1998, Depok:
Universitas Indonesia.
Saptomo Ade. 2010.
Hukum dan Kearifan Lokal, Jakarta: PT Grasindo.
Suardi, dkk. 2018.
Desain dan Aplikasi Rumpon Hidup (Bio FAD), Kota Bogor: IPB
Press.
Jurnal :
Mansyur Khumairah,
Umrah, Rifal, (2019). “Budaya Pendidikan Anak Pesisir di Wilayah
Kepulauan Spermonde”, Jurnal
Pemikiran dan Pengembangan Pembelajaran Vol. 1 No. 2.
Tesis :
de
Klerk, L.G. de., 1983. Zeespigel Riffen en Kustflakten in Zuitwest Sulawesi,
Indonesia, PhD Thesis Utrecht Netherland
Internet :
Ambari M. 2020. “Bagaimana Mengelola
Ekosistem Pesisir yang Tepat dan
Berkelanjutan?”, diakses dari
https://www.mongabay.co.id/2020/08/12/bagaimana-mengelola ekosistem-pesisir-yang-tepat-dan-berkelanjutan/,
(di akses pada tanggal 29 Mei 2021).
Pranata Aan. 2019. “Greenpeace: Marak Perusakan Terumbu Karang di Spermonde Makassar”, diakses dari https://sulsel.idntimes.com/news/sulsel/aanpranata/greenpeace-marakperusakan-terumbu-karang-di-spermonde-makassar/3, (di akses pada tanggal 28 Mei 2021).



Komentar
Posting Komentar