“Sekolah; Kisah Panjang yang Tak Berakhir”


Oleh: Rahmat Nur Adhi

He who can, does! He who cannot, teaches!
(Dia yang bisa, kerjakan! Dia yang tak bisa, ajarkan!)
- George Bernard Shaw –

Sejak lahir, seorang manusia sudah langsung terlibat didalam kegiatan pendidikan dan pembelajaran. Dia dirawat, dijaga, dilatih, dan dididik oleh orang tua, keluarga, dan masyarakatnya menuju tingkat kedewasaan dan kematangan, sampai kemudian terbentuk potensi kemandirian dalam mengelola kelangsungan hidupnya. Kegiatan pendidikan dan pembelajaran itu diselenggarakan mulai dengan cara-cara konvensional (alami) menurut pengalaman hidup, sampai pada cara-cara formal yang metodik dan sistematik institusional (pendidikan sekolah), menurut kemampuan konseptik rasional. 

Sumber gambar https://www.google.com/

Berbicara tentang sekolah, maka  yang ada dibenak masyarakat adalah sebuah bangunan  dengan deretan bangku dan meja di dalamnya dimana orang-orang melewatkan sebagian dari masa hidupnya untuk belajar atau mengkaji sesuatu. Kata itu umumnya memang diacukan pada suatu sistem, suatu lembaga, suatu organisasi besar dengan segenap kelengkapan perangkatnya: sejumlah orang yang belajar dan atau mengajar, sekawanan bangunan gedung, secakupan peralatan, serangkaian kegiatan terjadwal. Selingkupan aturan, dan seterusnya.

Padahal dalam bahasa aslinya, yakni kata skhole, scola, scolae, atau schola, kata itu secara harfiah berarti “waktu luang” atau “waktu senggang”. Pangkal kata tersebut bisa dilacak kembali jauh ke belakang, ke zaman Yunani kuno, zaman dan tempat asal muasal kata tersebut. Alkisah, orang Yunani tempo dulu biasanya mengisi waktu luang mereka dengan cara mengunjungi suatu tempat atau seseorang pandai tertentu untuk mempertanyakan dan mempelajari hal-ikhwal yang mereka rasakan memang perlu dan butuh untuk mereka ketahui. Mereka menyebut kegiatan itu dengan istilah skhole, scola, scolae atau schola yang keempatnya mempunyai arti sama yakni “waktu luang” yang khusus digunakan untuk belajar.

Lama kelamaan, kebiasaan mengisi waktu luang mempelajari sesuatu itu akhirnya tidak lagi semata-mata jadi kebiasaan kaum lelaki dewasa atau sang ayah dalam susunan keluarga pati masyarakat Yunani kuno. Kebiasaan itu juga kemudian diberlakukan bagi putra-putri mereka, terutama anak laki-laki yang diharapkan nantinya dapat menjadi penggangti sang ayah. Karena desakan perkembangan kehidupan yang kian beragam dan kian menyita waktu, sang ayah dan ibu merasa tak lagi punya waktu untuk mengajarkan banyak hal kepada anaknya. Karena itu, mereka kemudia mengisi waktu luang anak-anak mereka dengan cara menyerahkannya pada seseorang yang dianggap tahu atau pandai disuatu tempat tertentu, biasanya adalah orang atau tempat dimana mereka sendiri dulu pernah ber-skhole. Di tempat itulah anak-anak bisa bermain, berlatih melakukan sesuatu, belajar apa saja yang memang mereka anggap patut untuk dipelajari, sampai tiba saatnya kelak mereka harus pulang kembali kerumah menjalankan kehidupan orang dewasa sebagaimana lazimnya.

Maka, sejak saat itulah telah beralih sebagian dari fungsi scola matterna (pengasuhan ibu sampai usia tertentu), yang merupakan proses dan lembaga sosialisasi tertua umat manusia, menjadi scola in loco parentis (lembaga pengasuhan anak pada waktu senggang diluar rumah, sebagai pengganti ayah dan ibu). Itulah pula sebab mengapa lembaga pengasuhan ini bisa juga disebut sebagai “ibu asuh” atau “ibu yang memberikan ilmu pengetahuan” (almamater).

Ada banyak rumusan tentang fungsi sekolah dalam khasanah kepustakaan ilmu sosial pada umumnya dan ilmu pendidikan pada khususnya. Namun, semua rumusan itu sebenarnya dapat diringkas dengan apa yang disebut oleh seorang pakar psikologi pendidikan, Benjamin Bloom, bahwa sekolah sebagai lembaga pendidikan, pada dasarnya berfungsi menggarap tiga wilayah atau ranah (domain) kepribadian manusia yang disebutnya sebagai taksonomi pendidikan: membentuk watak dan sikap (afektif), mengmbangkan pengetahuan (kognitif), dan melatih keterampilan (psikomotorik).

Rumusan Bloom itu berlaku universal. Apapun istilahnya, semua orang akan menjawab sama: sekolah bertugas mendidik manusia untuk berwatak, berpengetahuan, dan berketerampilan. Pokoknya, sekolah bertugas untuk membentuk seseorang untuk menjadi manusia dalam arti yang sebenarnya, yang seutuhnya, karena tiga matra pokok (watak, pengetahuan, keterampilan) itulah yang menjadi matra khas kemanusiaan yang membedakan pribadi seseorang dengan makhluk lainnya.

Dari sini sangat jelas terlihat bagaimana kemudian sekolah yang dulunya hanya menjadi suatu hal yang dilakukan untuk mengisi waktu luang berubah drastis menjadi hal yang sudah terpola dan kemudian melahirkan sebuah sistem raksasa yang disebut dengan sistem pendidikan. Sampai detik ini banyak sekali muncul keraguan dari masyarakat tentang efektifitas sistem pendidikan tersebut.

Pertanyaan-pertanyaan seputar keragu-raguan akan dunia pendidikan saat ini seperti “berapa besar sebenarnya watak dan sikap atau kepribadian modern saat ini dibentuk oleh lembaga yang namanya sekolah ?” “berapa banyak sebenarnya ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh anak sekolah saat ini yang memang benar-benar diberikan oleh lembaga yang namanya sekolah ?” berapa banyak temuan-temuan ilmiah dan teknologi terbaru dihasilkan oleh lembaga sekolah dibanding yang dihasilkan oleh lembaga-lembaga penelitian militer dan perusahaan-perusahaan raksasa dunia ?”

Sekolah, bukanlah dan tak boleh menjadi menara gading. Begitulah kira-kira maunya seorang filsuf Spanyol, Ortega y Gasset yang kemudian menjadi ungkapan popular. Orang tahu apa yang dimaksudkannya. Sebagai suatu lembaga yang berkaitan erat dengan hajat hidup orang banyak, dengan impian-impian terbaik bagi masa depan mereka, tentu saja sekolah tak boleh menjadi terasing dan atau mengasingkan diri dengan dan dari kehidupan yang wujud dari sekililingnya. Dalam kata-kata Derek Bok, mantan Rektor Universitas Harvard, sekolah “…pertama kali harus memenuhi janji atas ‘kontraknya’ dengan masyarakat.

Sekolah menurut Gene Bylinsky, seorang pewarta lepas dalam salah satu laporannya, itu seperti oasis yaitu suatu tempat teduh dan sumber air di tengah padang pasir kerontang, tempat melepas lelah dan dahaga. Dalam artian sekolah sebagai suatu tempat dimana orang-orang memuaskan dahaga keingintahuannya, mewujudkan utopia-utopia dan imajinasi kekaryaannya, agar tidak mubazir dan sekedar fatamorgana. Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional juga mengatakan bahwa sekolah itu layaknya sebuah taman! Dimana dalam taman tersebut kita bisa menikmati berbagai tanaman yang indah.

Bagaimana pun kita mengibaratkan pendidikan dan sekolah itu seperti apa, kita harus memahami satu hal penting : begitu banyak orang yang bicara tentang sekolah dengan banyak perdebatan yang menandakan bahwa lembaga sekolah hanya bisa dipahami dalam kerangka kontekstualnya. Jika ini tak dipahami secara bijak dan arif, kita akan cenderung terjebak dalam suatu pemutlakan pengertian yang dipaksakan berlaku semesta. Padahal, bukankah sekolah tidak perlu memiliki ukuran serba pasti dan mujarab untuk semua keadaan, waktu, dan ruang yang memang saling berbeda. Jadi, keberadaan sekolah adalah suatu keabsahan apabila ia diragukan dan digugat.

Dan itu artinya upaya mencari jalan alternatif bisa berarti kita mencari sesuatu yang amat sangat berbeda : tidak sekedar memperbaiki, meningkatkan, menyesuaikan, menambal-sulam, tetapi juga bisa berarti meniadakan, menafikkan, mengubah, atau mengganti dengan sesuatu yang lain sama sekali, yang berlawanan jika perlu, yang benar-benar baru dan membaharu!

Daftar pustaka:
Suhartono, Suparlan. 2006. Filsafat Pendidikan. Yogyakarta. Ar-Ruzz
Topatimasang, Roem. 2013. Sekolah Itu Candu. Yogyakarta. Insist Press
Ahmadi, Abu. 2007. Sosiologi Pendidikan. Jakarta. Rineka Cipta

Komentar

Postingan Populer