Membedah Film "9": Manusia dan Robot dengan Struktur Meng-Ada-nya dalam Pandangan Martin Heidegger
Oleh: Muh. Ramdhan Syahroni
“Kita punya begitu banyak potensi yang begitu
menjanjikan.”
Sumber: http://www.google.com
“Tapi kita sia-siakan karunia yang kita miliki, yaitu kecerdasan kita.”
“Kita dibutakan akan teknologi …… yang hanya mempercepat kita menuju kehancuran.”
“Dunia kita telah berakhir, tetapi hidup harus terus berjalan.”
“Kita dibutakan akan teknologi …… yang hanya mempercepat kita menuju kehancuran.”
“Dunia kita telah berakhir, tetapi hidup harus terus berjalan.”
Itulah beberapa kalimat awal
dari sebuah film yang berjudul “9” (dibaca: Nine). Unik sekali melihat judul
film ini, ya “9”. Film dirilis pada tahun 2009. Ada makna yang terkandung
dan menarik menurut penulis untuk direfleksikan dari kehidupan manusia-manusia
abad ke-21 ini. Di mana ketika manusia mengalami ketidakotentikannya, atau
manusia sedang menjadi "budak" akan ciptaannya sendiri.
Sedikit tentang film ini menceritakan tentang seorang ilmuwan hebat yang memiliki kemampuan dalam menciptakan sebuah robot yang bernama Brain. Di mana robot ciptaan ilmuwan tersebut memiliki kecerdasan yang hampir menyetarai kecerdasan ilmuwan tersebut. Kehebatan ilmuwan tersebut menjadi berita dan sampai didengar oleh seorang pemimpin negaranya (kanselir) yang mencoba untuk memanfaatkan robot ciptaannya dengan tujuan “damai”. Tapi tidak seperti yang diharapkan oleh sang ilmuwan bahwa ciptaannya untuk sebuah kemajuan, nyatanya sang kanselir memanfaatkan kemampuan dari Brain untuk membuat sebuah “era mesin”, di mana robot-robot tempur ciptaan Brain digunakan dan mendeklarasikan perang. Akibatnya, banyak penduduk yang mengalami kerugian.
Sedikit tentang film ini menceritakan tentang seorang ilmuwan hebat yang memiliki kemampuan dalam menciptakan sebuah robot yang bernama Brain. Di mana robot ciptaan ilmuwan tersebut memiliki kecerdasan yang hampir menyetarai kecerdasan ilmuwan tersebut. Kehebatan ilmuwan tersebut menjadi berita dan sampai didengar oleh seorang pemimpin negaranya (kanselir) yang mencoba untuk memanfaatkan robot ciptaannya dengan tujuan “damai”. Tapi tidak seperti yang diharapkan oleh sang ilmuwan bahwa ciptaannya untuk sebuah kemajuan, nyatanya sang kanselir memanfaatkan kemampuan dari Brain untuk membuat sebuah “era mesin”, di mana robot-robot tempur ciptaan Brain digunakan dan mendeklarasikan perang. Akibatnya, banyak penduduk yang mengalami kerugian.
Pada masa depan, umat manusia di
bumi banyak mengalami kerugian besar akibat perang dengan robot-robot tempur
yang diciptakan oleh ilmuwan. Bumi dalam kondisi yang mengalami kehancuran,
sang ilmuwan berusaha menyelamatkan umat manusia dengan memindahkan spirit
kemanusiaan ke dalam boneka-boneka kecil buatannya. Salah satu boneka yang
terakhir dibuat dinamai #9 (dibaca: Nine). Ia dibekali kunci untuk
membangkitkan sebuah kekuatan yang dahsyat. #9 pun berkelana di reruntuhan kota
dan bertemu dengan boneka-boneka lain hasil ciptaan sang ilmuwan yang berjumlah
8. Di mana kedelapan boneka tersebut telah diberi spirit kemanusiaan yang sama
oleh sang ilmuwan. #9 pun bersama teman-temannya menghadapi musuh terbesar
mereka, yakni Brain yang bisa
menciptakan robot-robot tempur dan sangat memusuhi mereka. Di mana pada akhir
cerita, #9 mampu mengalahkan Brain
menggunakan kunci yang diberikan oleh sang ilmuwan menjelang kematiannya.
Film ini menggambarkan betapa
kecerdasan manusia dapat membangun peradaban yang awalnya itu dianggap sebuah
karunia yang dimiliki oleh manusia. Terutamanya ilmu pengetahuan sebagai buah
hasil pemikiran manusia yang telah banyak memberikan kontribusi terhadap
peradaban manusia. Di lain hal, kita tidak bisa memungkiri bahwa manusia adalah
bahwa mereka “tidak merasa puas” akan sesuatu yang dimilikinya. Karena tidak
merasa puas sehingga mendorong manusia untuk memenuhi kebutuhannya, tidak
menutup kemungkinan juga bahwa dalam pemenuhan kebutuhannya dapat
menggunakan cara yang mengarah kepada tindakan yang dianggap berlawanan dengan
norma yang berlaku. Hal tersebut digambarkan dalam film ini, di mana manusia
mengalami sebuah alienasi dikarenakan mengalami kesesatan memanfaatkan karunia
yang dimilikinya, yaitu kecerdasan. Akhirnya manusia mengalami kehancuran dari
beberapa segi akibat ciptaannya sendiri.
Sumber: http://www.google.com
Alienasi akan ciptaannya sendiri
dengan sudut pandang pemikiran Martin Heidegger (1889-1976) yang mencoba
menanyakan makna "Ada" dalam kehidupan ini. Manusia menurut Heidegger
memiliki kekhususan, di mana manusia sebagai Mengada (Seinde) yang mampu menanyakan Ada-nya (Sein). Apa yang dimaksud dengan ‘menanyakan Ada-nya’ ? Maksudnya
adalah tidak sekadar menjalani hidup. Berbeda dengan Mengada lainnya yang
menurut Heidegger tidak mampu menanyakan Ada-nya, seperti mobil, orang utan dan
buah durian misalnya. Orang utan, mobil dan buah durian misalnya menurut
Heidegger ‘ada’ begitu saja dan tidak pernah mencoba menanyakan Ada-nya. Yang
bisa menanyakan Ada-nya hanya Dasein.
Itulah nama baru manusia dari Heidegger. Dalam bukunya, Heidegger tidak pernah
menyebut kata ‘manusia’ karena istilah ini memiliki keumuman sebuah spesies
(Hardiman, 2016).
Mengada-mengada selain manusia (Dasein) tidak mampu menanyakan Ada-nya
dan berhubungan dengan Ada-nya. Tulisan misalnya tidak sadar akan Ada-nya,
tetapi penulis sadar akan Ada-nya. Berhubungan dengan Ada-nya disebut
eksistensi (existenz). Eksistensi
adalah fakta bahwa Dasein
berada-di-sana, mewujudkan kemungkinan-kemungkinannya, sehingga Dasein selalu melampaui dirinya. Namun
menurut Heidegger Dasein tidak hanya
berhubungan dengan Ada-nya. Seorang yang suka bermenung tidak akan tahan hidup
jika setiap detik menanyakan mengapa ia ada. Untunglah, ia lebih sering lupa
daripada menanyakan Ada-nya saat berhubungan praktis dengan Mengada-mengada
lain. Hubungan praktis ini bersifat banal dan membentuk keseharian kita. Jika
kontak dengan Ada bersifat eksistensial (existenzial),
kontak dengan Mengada-mengada lain bersifat eksistensiil (existenziel). Sifat eksistensial paralel dengan ontologis (ontologisch), yakni berkaitan dengan Ada
Mengada, sedangkan sifat eksistensiil dengan ontis (ontisch), yakni berkaitan dengan Mengada. Keseharian tentu bersifat
ontis karena orang tenggelam dalam pergaulan praktis dengan Mengada-mengada
lainnya. Tetapi dalam keseharian ada saat-saat orang terputus dari rutinitas
itu, misalnya mencoba berhubungan dengan Ada-nya, yakni menanyakan Ada-nya.
Sebuah momen yang bersifat ontologis (Hardiman, 2016).
Kita hadir di dunia ini, sebagai
Mengada dan melihat Mengada-mengada lainnya, hal yang selain manusia sebagai Dasein, hal tersebut merupakan sebuah
faktisitas. Berkaitan dengan film di atas, kita melihat banyak Mengada selain Dasein, yang menurut Heidegger
terbagi atas tiga, yaitu alat-alat, benda yang bukan alat dan orang lain.
Pertama, alat-alat dalam hal ini robot ciptaan sang ilmuwan sebagai alat yang
cara meng-Ada-nya dinamakan Zuhandenes
yang secara bahasa berarti “siap-untuk-tangan”. Ada alat ini (robot)
berstruktur agar mampu digunakan atau diperuntukkan ke suatu hal. Contohnya,
yaitu robot-robot tempur ciptaan sang ilmuwan yang kemudian
disalahgunakan oleh kanselir dalam film ini diperuntukkan agar mampu
menghancurkan musuh dalam medan perang, terutamanya manusia. Contoh lain Mengada,
bisa saja berujung terjadi kepada manusia (Dasein)
yang diperalat (Zuhandenes) sebagai
seorang budak. Kedua, yaitu benda-benda yang bukan alat disebut Vorhandenes yang berarti
“tersedia-di-depan-tangan”. Objek-objek itu netral, tidak terlibat dengan kita
dan tampak homogen, asing, serta tak terlihat gunanya. Ketiga, yaitu Mitdasein (orang lain) sebagai sebuah
faktisitas dan tidak bisa ditolak keberadaannya, atau menandakan manusia
sebagai makhluk sosial. Cara Dasein
berhubungan dengan orang lain menurut Heidegger dinamakan Fuersorge yang berarti “memelihara”. Di sini memperlihatkan
bagaimana kita memperlakukan orang lain berbeda dengan memperalatnya, melihat
struktur Mengadanya yang berbeda.
Fenomena ini, terutamanya
robot-robot tempur ciptaan manusia memperlakukan manusia sebagai objek
serangannya yang berujung kematian. Robot-robot tempur ciptaan ilmuwan memiliki
struktur meng-Ada-nya, yaitu Zuhandenes
yang awalnya dianggap sebagai pembawa perdamaian malah terjadi sebaliknya, di
mana yang terjadi sebaliknya, yaitu menjadi penghancur umat manusia. Bahkan
sampai sekarang, manusia tidak lepas dari tindakannya dalam mencoba
melakukan “memanipulasi” dan “memperalat” manusia lainnya. Dalam
pandangan Heidegger terkait hal di atas, sikap itu tidak tepat. Menanggapinya
bukan berdasar dengan pertimbangan etis. Melainkan secara ontologi
Mengada-mengada yang disebut di atas memiliki struktur cara Mengada (Seinsmodus) yang memang berbeda.
Manusia (Dasein) memiliki cara
Mengada yang berbeda dengan alat (Zuhandenes), benda-benda yang bukan alat (Vorhandenes) bahkan dengan
Mitdasein pun yang dalam hal ini dimaksud orang lain sebagai sebuah faktisitas,
tidak memiliki struktur Mengada yang sama dengan Vorhandenes maupun Zuhandenes.
Referensi:
Hardiman, F. Budi. 2016. Martin
Heidegger dan Mistik Keseharian. Jakarta: KPG.



Komentar
Posting Komentar