Ketika Berorganisasi Menjadi Pilihan: Refleksi Konsep Kebebasan Jean-Paul Sartre
Oleh: Muh. Ramdhan Syahroni
(tulisan ini telah terbit di http://www.kemasos.wordpress.com dan postingan ini telah mendapatkan persetujuan dari penulis).
Sumber gambar https://www.google.co.id/
Berubahnya status siswa menjadi mahasiswa tentu menjadi hal
yang diinginkan beberapa orang di Indonesia yang ingin melanjutkan
pendidikan di perguruan tinggi, terutamanya perguruan tinggi negeri
(PTN). Mungkin saja hampir sebagian besar bagi yang telah melewati masa
pendidikan di tingkat SMA ingin merasakan hal tersebut. Karena dengan
melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, kita akan memilih jurusan
yang menjadi fokus studi kita. Pemfokusan tersebut terkadang disesuaikan
dengan prospek kerja yang kita cita-citakan sejak kecil. Entah setelah
lulus menjadi seorang insinyur, dokter, diplomat, ekonom, presiden, dll.
Di Universitas Hasanuddin (Unhas) pada tahun 2017 ini,
penerimaan mahasiswa baru dibagi menjadi tiga golongan berdasarkan jalur
kelulusannya, yaitu lulusan jalur SNMPTN, SBMPTN, dan Mandiri. Bahkan
para calon mahasiswa baru yang berbeda-beda latar belakangnya, baik itu
jurusan, asal daerah, ras, dll. Dan yang menjadi salah satu ciri khas
dari mahasiswa baru adalah tentang bagaimana rencana mereka menjalani
masanya menjadi seorang “mahasiswa”. Entah mau menjadi mahasiswa yang
aktif dalam berorganisasi, kuliah sambil kerja sampingan, sampai yang
mau lulus dengan predikat cumlaude.
Beberapa organisasi kemahasiswaan atau ormawa entah itu
dari BEM/Senat fakultas atau HMJ akan melaksanakan proses pengaderan
kepada mahasiswa baru yang biasanya dilakukan pada awal-awal pekan
perkuliahan. Proses pengaderan tersebut sederhananya adalah bentuk
rekrutmen menjadi salah satu bagian dari ormawa tersebut. Hal tersebut
menjadi sebuah pilihan bagi mahasiswa baru, antara ingin berorganisasi
atau tidak.
Dalam hal ini, beberapa mahasiswa baru diperhadapkan dengan
pilihan antara mau bergabung atau sebaliknya. Tetapi yang menjadi salah
satu konsekuensi ketika tidak mengikuti pengaderan beberapa ormawa yang
bersangkutan, yaitu mahasiswa baru “tidak dianggap” menjadi salah satu
bagian ormawa tersebut. Bahkan sampai berujung dengan memberikan
“tekanan” entah dalam bentuk apa itu dari senior ormawa ke juniornya
agar mengikuti proses tersebut. Jadi tidak asing lagi kalau memberikan
tekanan ke junior untuk pengaderan dan mengikuti pengaderan hanya
sebatas rasa “takut”.
Berangkat dari konsep seorang filsuf pada abad ke-20 asal
Perancis yang dianggap mengembangkan aliran filsafat eksistensialisme
yang bercorak ateistik, yaitu Jean-Paul Sartre. Sartre menganggap bahwa
manusia memiliki “pilihan bebas” atau “kebebasan”. Di mana pada pilihan
kita, entah mau mengatakan iya atau tidak terhadap sesuatu. Kita akan
menemukan konsekuensi dari pilihan-pilihan kita. Hal tersebut
mengindikasikan bahwa manusia memiliki tanggung jawab atas
pilihan-pilihannya.
Sartre juga pernah memberikan nasehat kepada mahasiswanya
yang dilema akan pilihannya. Lalu dia mencari hubungannya dengan konsep
kebebasannya dan berkata kepada mahasiswanya, “Ciptakan! Dalam setiap
hal akan ada penderitaan, tetapi juga penciptaan dunia”. Apa yang
dimaksud Sartre di sini adalah, setiap manusia memanglah selalu
dihadapkan pada pilihan-pilihan, namun berbagai pilihan tersebut
tidaklah mengkungkung dan membatasinya, selalu tersedia pilihan moderat
hingga radikal.
Konsep Sartre mengenai kebebasan tersebut jika dikaitkan
dengan pilihan ikut berorganisasi atau tidak maka akan kita temukan
pilihan antara “iya” atau “tidak”. Di mana kedua pilihan tersebut
memiliki konsekuensi masing-masing, entah mau mengatakan “iya” dan
berujung dalam bentuk “pengakuan” sebagai bagian ormawa atau mengatakan
“tidak” yang berujung dalam bentuk “tidak diakui” sebagai bagian dari
ormawa bersangkutan. Maka dari itu, manusia harus mampu bertanggung
jawab akan pilihan-pilihannya.
Referensi:
Nugro, Wahyu Budi. 2013. Orang Lain Adalah Neraka: Sosiologi Eksistensialisme Jean-Paul Sartre. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Wibowo, Setyo. 2011. Filsafat Eksistensialisme Jean-Paul Sartre. Yogyakarta: Kanisius.



Komentar
Posting Komentar