HmI: Mengabdi Untuk Negeri Yang Berlandaskan Nafas Islam
Oleh: Suhardi
(Ketua Umum HmI Komisariat ISIPOL UNHAS)
ket: Ketua HmI dan Ketua Kohati komisariat Isipol Unhas Periode 2016-2017, dalam kegiatan P2MB Fisip Unhas.
Sejarah Singkat Kelahiran & Perjuangan HmI
Himpunan Mahasiswa Islam, demikian sebutan terhadap satu organisasi mahasiswa yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Wadah kemahasiswaan ini lebih dikenal dengan singkatannya HmI, didirikan oleh mahasiswa bernama Lafran Pane bersama teman-temannya di lingkungan kampus Sekolah Tinggi Islam Yogyakarta (Sekarang Universitas Islam Indonesia) pada tanggal 5 Februari 1947 atau bertepatan pada 14 Rabiul Awal 1366 H. Pada masa itu, Indonesia yang baru beberapa tahun diproklamirkan oleh Soekarno dan Hatta mewakili bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 tetap tegar menjaga tanah air dan terhindar dari agitasi dan rongrongan Belanda
yang mengharapkan Indonesia kembali dalam jajahannya.
Hal inilah yang memprakarsai Lafran Pane untuk mendirikan sebuah organisasi dengan basis mahasiswa muslim di saat Negara Indonesia di usia mudanya membutuhkan tenaga pemuda untuk menahan rongrongan agresi Belanda. Langkah awal komitmen perjuangan HmI ditujukan untuk,
pertama, mempertahankan
Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia, dan kedua, menegakkan dan mengembangkan ajaran Islam. Komitmen ini, merupakan langkah perjuangan yang terbingkai dan konsisten dengan maksud dan cita-cita pendahulu
yang mendirikan Republik
Indonesia ini, yakni menjadikan Negara Kesatuan Republik Indonesia guna mencerdaskan kehidupan bangsa, meningkatkan kesejahteraannya serta meningkatkan dimensi ketaqwaan manusia Indonesia.
Berbekal kesadaran ini, dalam tulisan Ketua Umum PB HmI Periode 2013-2015 M. Arif Rosyid (Baca: Merebut Optimisme; HmI dan Masa Depan
Indonesia) mengemukakan: “Nurcholish Madjid (1939-2005) menyebut Lafran Pane sebagai tokoh besar dengan pandangan yang melenting jauh kedepan, karena memandu kesadaran ke-Indonesiaan dan keislaman
di kalangan intelegensia muda, tanpa mempertentangkan keduanya”.
Perjalanan sejarah bangsa Indonesia semenjak berdiri hingga hari ini memang telah terbuktikan bahwa HmI secara eksis terus menerus memberikan pengabdian dan darma bakti
yang tulus ikhlas terhadap tegaknya Republik Indonesia.
HmI Organisasi Kader & Perjuangan
Jika berbicara pengkaderan HmI, maka tak dapat dipisahkan dengan perjuangan HmI. Karena jelas bahwa HmI lahir secara tegas membawa serta komitmen yang kuat terhadap umat dan bangsa. Hal ini secara gamblang tertuang pada tujuan awal HmI pada saat kelahirannya (Baca: dua poin pada paragraf kedua).
Selanjutnya,
komitmen dan cita-cita ke-Indonesiaan itu semakin tegas dari rumusan tujuan HmI yang terakhir, yakni:
terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang
bernafaskan Islam,
dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.
Perbedaan rumusan tujuan HmI dari awal hingga yang terakhir tersebut bukan sekali-kali bermakna terjadinya pergeseran tujuan dan cita-cita HmI,
melainkan untuk mempertajam dalam rangka mengantisipasi perubahan situasi dan dinamika zaman. Orientasi gerak tujuan tersebut mempunyai parameter jelas tentang kader yang hendak dihasilkannya, yakni Insan Cita, yaitu model ideal tentang manusia paripurna yang dalam insan dikenal dengan konsepsi insan kamil.
Pengkaderan begitu penting dan mendasar sebagai kontinuitas perjuangan dan implementasi tujuan HmI. Sebagai organisasi mahasiswa yang independen, sudah menjadi keharusan kader-kader HmI senantiasa kritis terhadap berbagai perkembangan lingkungannya baik lingkup kampus maupun bangsa. Selain itu, kader HmI juga patut untuk mencerminkan Islam sebagai rahmatan lil alamin, ditengah masih terdapatnya sebagian kelompok Islam yang cenderung ekstrem dan menggunakan tindakan reaktif dan agresif. Maka,
perlukiranya kader berupaya memolopori wacana Islam moderat sebagai agama penuh kedamaian dan cinta kasih.
Dari Kampus untuk Negeri
Dunia kampus adalah dunia yang penuh
semangat akan perjuangan,
semangat beridealisme
dan semangat berlembaga. Kampus bukan hanya tempat mengenyam ilmu
pengetahuan melainkan juga laboratorium dari pengetahuan tersebut. Jika
dianalogikan, kampus adalah miniatur sebuah negara. Dimana terdapat berbagai
elemen kehidupan di dalamnya. Maka untuk membangun sebuah ‘negara’, dibutuhkan
wadah untuk menyalurkan segala ide agar dapat dieksekusi sesuai harapan dan
cita-cita, salah satu caranya adalah dengan berorganisasi.
HmI sebagai salah satu organisasi
yang berkecimpung dalam dunia kampus sejak awal berdirinya telah berkomitmen
menjadi sentrum pergerakan mahasiswa dalam memperjuangkan hak-hak umat. HmI
telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah panjang pasca kemerdekaan
bangsa ini. Tak hanya menjadi sentrum pergerakan tetapi juga turut menjadi pengawal
kehidupan berbangsa dan bernegara. Meskipun lahir dan berkembang di lingkungan
kampus, HmI sejatinya ialah bagian dari masyarakat luas, berdiri di garda
terdepan menyuarakan aspirasi rakyat Indonesia.
Partisipasi HmI dalam membangun
kehidupan bangsa ini dapat dilihat dari kader-kadernya yang mampu menembus
organ-organ sentral, menjadi tokoh-tokoh penggerak sejak era berdirinya hingga
zaman Reformasi ini. Dari mulai politisi, pengacara, ekonom, tokoh pendidikan
hingga budayawan. Sebut saja nama-nama besar seperti Jusuf Kalla, Mahfud MD,
Anies Baswedan, Abraham Samad, Karni Ilyas dan banyak lainnya merupakan bukti
nyata bahwa HmI bukan sekedar lembaga eksternal kampus yang menjadi tempat
pengederan atau diskusi semata, tetapi dapat mencetak sosok-sosok inspiratif
yang sangat berpengaruh bagi negara ini.
Tidak ada orang besar yang lahir
dari hal-hal instan. Semua pasti melalui perjuangan. Perjuangan bukan hanya
diartikan dengan angkat senjata dan ikut berperang, perjuangan lebih luas
daripada itu. Misalnya dengan menuntut ilmu lalu mengaplikasikannya. Mereka
yang menjadi kader HmI memiliki berbagai latarbelakang disiplin ilmu yang
berbeda yang bila disinergitaskan bukan tidak mungkin akan membawa dampak
signifikan dalam pembangunan negeri ini. Sebab Indonesia membutuhkan
orang-orang yang berpengetahuan
dibarengi kemauan
untuk berdedikasi meneruskan tongkat estafet perjuangan yang telah dibangun
oleh para founding father.



Komentar
Posting Komentar