Sahut-menyahut “Saut”


Sahut-menyahut “Saut”

Oleh HmI komisariat Isipol Unhas cabang Makassar Timur
Penulis :
Runi Virnita Mamonto
Rahmadi
Suhardi
 

Mereka orang-orang cerdas ketika mahasiswa, kalau di HmI minimal LK 1, tetapi ketika menjadi pejabat mereka korup dan sangat jahat.
Demikianlah potongan perkataan Saut Situmorang yang tersebar dan menjadi penyulut berbagai aksi yang dilakukan HmI di seluruh Indonesia. Aksi tersebut tak lain ialah untuk mengecam perkataan Saut Situmorang yang dianggap menghina HmI. Tak hanya melakukan demonstrasi di jalanan, HmI juga melayangkan laporan pengaduan ke pihak kepolisian agar mengusut perkataan Saut Situmorang tersebut ke ranah hukum, karena diduga telah melakukan tindak pidana berupa fitnah, penghinaan, pencemaran nama baik, perbuatan tidak menyenangkan dan penyebaran kebencian.
Jika kita membaca potongan perkataan di atas, jelas terlihat bahwa Saut menuduh HmI sebagai organisasi yang melahirkan kader yang nantinya akan menjadi seorang koruptor. Namun jika perkataan Saut dikutip lebih panjang lagi, maka akan terlihat seperti ini:
Orang yang baik di Negara ini mas, jadi jahat ketika dia sudah menjabat. Lihat aja lagi tokoh-tokoh politik, itu orang-orang pintar semuanya, ini orang-orang cerdas. Saya selalu bilang kalau di HmI minimal dia ikut LK 1, ya kan lulus tuh, anak-anak mahasiswa tuh pinter. Tapi begitu menjadi pejabat dia jadi jahat, curang, greedy. Ini karena apa? Karena saya bilang sistem belum jalan. Artinya apa? Adapun peraturan-peraturan itu tidak pernah kita jalankan. Ini artinya kenapa karakter dan integritas orang itu berubah? Ini persoalan bangsa kita. Ini yang saya bilang, peradaban bangsa kita ini Karena apa? Karena memang kita tidak mulai sesuatu dari yang kecil.
Bila dikutip lebih panjang seperti di atas, perkataan Saut Situmorang dalam acara benang merah Tv One sesungguhnya tidak menyalahkan atau pun menghina HmI. Justru Saut melihat HmI sebagai lembaga mahasiswa yang melahirkan kader cerdas, bukan melahirkan para koruptor. Karakter dan integritas yang telah dibangun di lembaga mahasiswa, semisal HmI, berubah 180 derajat ketika telah menjabat. Ini salah siapa? Salah HmI? Bukan. Bagi Saut ini karena sistem belum jalan, ada peraturan tapi tak pernah dijalankan oleh aparatur negara. “Ini persoalan bangsa kita”. Sederhananya, pejabat-pejabat korup yang dulunya adalah kader cerdas, merupakan korban dari sistem yang tidak berjalan baik.
Dari dua kutipan di atas, melahirkan pula dua pembacaan dan penyikapan yang berbeda. Tuntutan KAHMI, PB HmI hingga cabang-cabang HmI bias dilihat sebagai tuntutan yang dilandaskan pada kutipan yang pertama, atau yang lebih pendek. Yakni kutipan yang mudah mempropaganda masyarakat bahwa Saut telah menghina HmI. Padahal, kutipan tersebut adalah kutipan yang masih memiliki penjelasan panjang di belakangnya. Dan parahnya, kutipan pertama—bukanlah kutipan langsung dilontarkan oleh Saut—yang tersebarluas di media social hingga menimbulkan kemarahan dimana-mana.
Di dalam LK1 HmI, kami, kader HmI diberikan materi “landasan kerangka berpikir ilmiah” yang mewajibkan setiap kader HmI memandang suatu masalah secara menyeluruh, dan tanpa harus melebih-lebihkan. Memotong kutipan yang seharusnya tidak dipotong, merupakan suatu upaya untuk membuat pandangan masyarakat terhadap Saut Situmorang menjadi lebih sempit dan direspon secara berlebihan. Untungnya kami adalah kader HmI yang diajarkan untuk berpikir tenang, kritis dan rasional hingga kami merasa perlu mendengar pembicaraan Saut Situmorang lebih lama dan berulang kali. Sampai akhirnya kami mendapatkan kutipan yang kedua, yang sama sekali tidak menyalahkan HmI atas korupsi yang terjadi di Negara ini.
*
Minggu, 3 April 2016 Front Pembela Islam (FPI) membubarkan secara paksa diskusi yang digelar oleh HmI, Kelompok Diskusi Batas Arus Pekanbaru, dan Jaringan Filsafat Islam Pekanbaru. Selain membubarkan paksa, FPI juga selama beberapa saat menahan pembicara dalam diskusit ersebut.
Kamis, 5 Mei 2016 dalam talkshow di TV One, Saut Situmorang menyebut-nyebut nama HmI dalam pembahasan tentang korupsi pejabat. Kutipan pembicaraan Saut Situmorong yang sepotong-sepotong menyebarluas di media sosial, hingga berujung pada tuntutan berbagai elemen HmI terhadap Saut.
Terlihat dua kondisi yang melibatkan HmI dengan penyikapan yang berbeda. Kita tidak melihat aksi demonstrasi yang besar ataupun tuntutan ke pihak kepolisian terhadap kasus pembubaran diskusi yang dilakukan oleh FPI. Tetapi respon sebaliknya justru kita lihat dari kasus kutipan Saut Situmorang yang dikutip sepotong-sepotong. Aneh saja. Kita lebih peka terhadap kasus pembicaraan Saut yang bersumber dari kekeliruan nalar kita sendiri, namun membiarkan kasus pembubaran diskusi di Pekanbaru. Padahal, untuk skala HmI, pembubaran diskusi di Pekanbaru jauh lebih berdampak pada gerakan intelektual dan kaderisasi di tubuh HmI. Betapa tidak, pembubaran diskusi HmI tersebut merupakan upaya pembungkaman terhadap kebebasan intelektual. Justru pembungkaman seperti inilah yang mestinya melahirkan aksi besar-besaran oleh HmI.
Keanehan lainnya, jika pun teman-teman HmI menganggap kutipan pertama Saut di atas adalah benar, maka mestinya gerakan yang diusung bukanlah tuntutan bubarkan KPK yang justru over generalisasi, atau melayangkan laporan pengaduan ke pihak kepolisian atas dugaan fitnah dan lain sebagainya. Gerakan yang diusung mestinya gerakan menantang Saut mengungkapkan data atas klaimnya.
Kami mengingat salah satu ayat dalam Al Quran, “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Dengan kutipan ayat di atas, sangatlah jelas bahwa Allah SWT memerintahkan kita untuk menegakkan kebenaran, menjadi saksi yang tentunya berkata dan berlaku berlandaskan kebenaran, serta adil dalam melihat duduk masalah yang dihadapi. Jika perkataan Saut Situmorang ternyata hanyalah sebuah kesalahpahaman, lalu siapakah yang membiarkan potongan perkataan yang dipelintir itu menyebarluas? Apa sebenarnya dibalik penyebaran potongan perkataan tersebut? Itulah yang seharusnya menjadi pertanyaan besar bagi HmI hari ini.

Komentar

  1. Tulisan yang luar biasa kanda...

    Saya juga mohon tabayun dan konfirmasi dengan tulisan kanda ini ( 3 paragrapgh ) terakhir

    "Keanehan lainnya, jika pun teman-teman HmI menganggap kutipan pertama Saut di atas adalah benar, maka mestinya gerakan yang diusung bukanlah tuntutan bubarkan KPK yang justru over generalisasi,"

    apa memang ada demonstrasi dari HMI yang menuntut pembubaran KPK ? demo dimana ya kanda? Wassalam

    Dito

    BalasHapus
  2. Karena yang saya tau, salah satu tuntutan HMI adalah SAut turun dari jabatanya sebagai wakil ketua KPK, bukan bubarkan KPK. terima kasih dan mohon maaf sebelumnya kanda.

    BalasHapus
  3. Demo bubarkan KPK? Dari awal isu yang diangkat adalah selamatkan KPK dari Saut. Baru belakangan berita "Demo Bubarkan KPK" mencuat di Sosmed hanya karena demo yang dilakukan di KPK. Tapi adakah media yang memberitakan isi orasi dan pernyataan sikap demonstran?

    BalasHapus
  4. Apapun isi demonya, yang saya lihat adalah HMI yang berdemo merusak fasilitas publik. What a shame.

    BalasHapus
  5. SENANDUNG HARAPAN KADER
    UNTUK HMI & UNTUK INDONESIA
    Oleh: Muh. Alim Bahri

    Menanggapi pernyataan Saut Situmorang terhadap organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), selaku kader Hijau-Hitam berpendapat bahwa HMI sebagai organisasi yang matang, besar dan intelek harus menanggapi dengan kepala dingin, dan dengan sikap dan tindakan yang logis lagi rasional dalam menghadapinya. Dibenak saya muncul sebuah pertanyaan, siapa sebenarnya Saut Sitomorang itu? Saya mengindikasi dan menduga kuat bahwa perilaku Saut Situmorang ini cenderung merupakan desain-strategy dari orang-orang yang tidak bertanggung-jawab. Boleh saja Saut Situmorang adalah orang yang sejak dini menjadi bagian dari kelompok yang menginginkan pelemahan terhadap lembaga anti rasuah itu, yang kemudian oleh karena sulitnya melumpuhkan KPK sehingga melesatkan Saut Situmorang menjadi pimpinan KPK untuk menjadi agent - misionaris - kelompok tertentu, dan untuk merusak KPK dari lubuk usus institusi tersebut. Dicatutnya nama HMI, juga memungkinkan adalah merupakan target jitu para jejaring kaum neoliberalisme-kapitalis karena mungkin mereka menilai bahwa Hijau-Hitam memeliki basic kekuatan ideologis yang massive dengan potensi kecakapan intelektual yang mumpuni sehingga dianggap layak untuk digerogoti yang secara tidak langsung ikut terseret kedalam arus agenda freemason untuk menumbangkan semangat penegakan hukum di Indonesia. Atau boleh saja, bahwa issu tersebut dikemas secara rapi sebagai strategy pengalihan wacana terkait atas munculnya embrio insan palu arit diberbagai daerah dibelahan bumi pertiwi kita. Tentu sebagai kader insan cita HMI, berharap bahwa untuk mengantisipasi terseretnya kita pada adanya kemungkinan grand-design dari kelompok-kelompok yang tidak bertanggung-jawab, kelompok yang ingin melumpuhkan lembaga KPK dan aurah penegakan hukum, dan para kelompok jejaring neolib-kapitalism freemasonian, maka HMI harus mengambil tindakan cermat dan serdas, logis lagi-rasional. Bahwa pernyataan Saut Situmorang yang ramai ditulis didinding media harus dianggap sebagai pernyataan pribadi dan tidak menyertakan institusi KPK didalamnya. Bahwa patut kita duga, eksistensi Saut Situmorang di KPK adalah bagian yang tidak terpisah dari buah kerja para jejaring kapitalis-freemasonian yang tentu dengan tegas HMI harus melakukan antisipasi dini dan secara tegas untuk membersihkan KPK dari orang-orang yang dapat diindikasi sebagai misionaris kaum neolib. Mencermati hal tersebut, patutlah kiranya, ketika sebagai kader HMI meminta kepada seluruh insan-cita untuk menuntut -terkait pernyataannya- agar Saut Sitomorang mundur dari KPK sehingga minimal bahwa HMI tetap harus menjaga eksistensi dan kebesaran HMI itu sendiri dan menjauhkan lembaga anti rasuah itu dari tangan orang-orang yang berkeinginan dan dapat merusak jati-diri bangsa, dan dari kelompok yang dapat mengancam akan terjadi gerakan perpecahan serius antar institusi dan antar anak bangsa yang pada akhirnya akan membawa bangsa kita pada sebuah lumpur kemudaratan dan kebidaban ditangan imperium neo-kolonialisme dan

    kapitalisme.global.

    Hidup Rakyat, hidup NKRI
    Hidup POLRI yang Mandiri dan Profesional
    Hidup TNI yang Kuat dan Solid
    Hidup Insan Cita, BAHAGIA HMI......... YAKUSA.....!!


    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer