Rasionalitas vs Konservatisme: Kemunduran Ilmu Terhadap Keimanan (Ditinjau Secara Historis)

Oleh: Suhardi
 

Sejarah budaya Islam dibagi menjadi periode kemajuan ilmu dibarengi keimanan dan periode kemunduran ilmu terhadap keimanan. Kemajuan ilmu dibarengi keimanan di peradaban Islam begitu luar biasa. Pada masa pemerintahan Harun Al-Rasyid, Baghdad menjadi kota yang tidak ada tandingannya di seluruh dunia dan dikenal sebagai kota 1001 malam. Baghdad di kala itu adalah kota keagungan yang tiada tara, kota yang menjadi pusat peradaban sebuah negeri yang sangat berkuasa, penuh akan kemegahan, rakyat hidup makmur dan sejahtera. Sedangkan Eropa di saat itu masih berada dalam zaman The Dark Ages.
Kemegahan peradaban Islam dimulai sejak kekhalifahan Harun Al-Rasyid (masa khalifah 786-809) dari Bani Abbasiyah. Kejayaan yang didapatkan Harun tidak terlepas dari peran khalifah-khalifah sebelumnya, sejak khalifah pertama Bani Abbasiyah di Baghdad yaitu Abu Abbas As-Saffah (masa khalifah 750-754) yang disibukkan dengan menata kestabilan politik di pemerintahannya hingga Harun Al-Rasyid yang menjadikan Baghdad sebagai kota ilmu di dunia. Kota Baghdad dihiasi dengan perpustakaan-perpustakaan besar, di dalamnya mungkin ribuan buku atau jutaan buku yang terkumpul dari seluruh dunia dan bisa dengan mudah dibaca oleh orang-orang. Dari ide-ide para pemikir terhebat sepanjang sejarah bisa dengan cepat tersebar dan wajarlah bila masyarakat di Baghdad berpikiran maju dan berwawasan luas. Ilmu-ilmu yang berkembang di masa itu seperti filsafat, sosial-politik, sastra, kedokteran, astronomi, geografi, metalurgi, algoritme dan lain-lain. Ilmu merupakan keunggulan utama peradaban Islam, seiring perkembangannya mengalami kemajuan-kemajuan yang pesat, misalnya ilmu kedokteran yang dikembangkan sehingga melahirkan ilmu anatomi, gizi, optik bahkan ilmu pembedahan. Pesatnya kemajuan ilmu membuat Baghdad menjadi kota yang makmur. Tidak ada yang mampu menandingi peradaban Islam di masa itu berkat kepemimpinan yang cerdas dan bijaksana dari seorang pemimpin Harun Al-Rasyid.
Ajaran Rasulullah SAW untuk mencari ilmu dijalankan dengan semangat ibadah kepada Allah sehingga pengetahuannya bermanfaat terhadap diri, orang banyak dan alam. sebagaimana sabda Rasulullah SAW “kejarlah ilmu sampai ke negeri Cina” sehingga ilmu-ilmu diimpor besar-besaran di seluruh peradaban maju dunia, seperti Persia, Yunani, Romawi, India dan juga Cina.
Upaya besar peradaban Islam dalam bidang ilmu juga dikembangkan pada masa khalifah Al-Ma’mun. Ialah anak dari Harun Al-Rasyid yang menjadi penerus kekhalifahan di imperium Bani Abbasiyah. Al-Ma’mun (masa khalifah 813-833) adalah seorang pemimpin yang rasionalis dan sangat dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Aristoteles. Al-Ma’mun sendiri adalah seorang intelektual yang haus akan pengetahuan. Dia sangat terpelajar dan mencintai ilmu. Pandangannya, segala hal harus dilihat secara rasional dan mempunyai dasar-dasar rasio yang kuat. Ia sendiri mendirikan sekolah atau pusat pembelajaran Bait Al-Hikmah atau gedung kebijaksanaan di Baghdad. Di sekolah yang besar ini, para intelektual seluruh negeri berkumpul dan mengembangkan berbagai macam ilmu. Para intelektual muslim memberikan sumbangan yang begitu besar pada kemajuan-kemajuan ilmu modern seperti filsafat, sosial-politik, sastra, kedokteran, astronomi, geografi, metalurgi, algoritme dan lain-lain. Para ilmuwan muslim saat itu memiliki kecerdasan yang mampu menguasai lebih dari satu macam ilmu atau yang dinamakan Polymath.
Salah seorang tokoh intelektual muslim yang hidup di masa Al-Ma’mun dan menjadi ilmuwan di Bait Al-Hikmah adalah Al-Kindi. Al-Kindi (801-873) adalah filsuf yang memopulerkan ide-ide pemikiran filsuf Yunani yaitu Plato dan Aristoteles. Sebagai pelopor yang berusaha mempertemukan antara agama dan filsafat, ia berpendapat bahwa keduanya tidak saling bertentangan. Filsafat menurutnya semulia-mulia ilmu dan ilmu teologi adalah sebagai cabang termulia dari filsafat. Dengan demikian, berfilsafat tidak mengaburkan keimanan terhadap agama. Namun, ada saja kaum yang konservatif dan menolak pemikiran Al-Kindi. Ilmu filsafatnya akan mempengaruhi filsuf-filsuf besar seperti Al-Farabi dan Ibnu Sina. Al-Kindi merupakan intelektual Polymath, selain pemikiran filsafatnya, ia juga mengembangkan pemikiran aritmetika, astronomi dan kedokteran.
Kemajuan ilmu dan pemikiran filsafat di peradaban islam begitu luar biasa sehingga kota Bagdad dijadikan sentrum wacana keilmuan. Akan tetapi, masalahnya pemikiran yang telah pesat ini harus bertabrakan dengan pemikiran-pemikiran yang lebih konservatif dan sulit untuk ditemukan pemecahannya.
Di masa kekhalifahan Al-Ma’mun, telah berkembang aliran pemikiran muktazilah. Mereka berpikiran rasional dengan rujukan filsafat yunani, tetapi yang menjadi masalah beberapa diantaranya sangat ekstrim. Di sisi lain, ada para ulama yang berpikiran konservatif, mereka khawatir kesucian agama dinodai oleh eksplorasi rasionalitas dan pertanyaan-pertanyaan kaum muktazilah yang seakan-akan mempertanyakan agama. Tindakan mereka sebenarnya bertujuan baik, yaitu bertujuan untuk memperkuat dasar-dasar agama sehingga agama mudah diterima akal. Akan tetapi, kaum konservatif menganggap hal itu bisa membahayakan agama, sebab semakin dirasionalkan maka akan membuat orang-orang jauh dari nilai spiritual.
Masalah besar antara kaum rasionalisme dan konservatisme terus berlanjut sehingga menciptakan gerakan-gerakan yang intoleran (baik berpengetahuan dan sosial politik). Ditambah lagi dimana kekhalifahan Al-Mutawakkil (masa khalifah 847-861) kurang menyenangi kaum rasionalis, mungkin dikarenakan kecerdasannya sendiri terbatas dan selalu ingin dianggap pintar. Saking parahnya, perbedaan pandangan ini menimbulkan konflik begitu pahit dan berkepanjangan, sampai-sampai banyak terjadi hukuman kepada kaum rasionalis dan pembakaran buku-buku. Hal ini dikarenakan perbedaan pandangan dari kedua belah pihak yang tidak kunjung usai. Akhirnya, konservatisme yang berlebihan menguasai peradaban Islam atau imperium bani Abbasiyah. Inilah yang menjadi salah satu sebab kemunduran besar peradaban Islam.
Jikalau dilakukan analisa, yang menjadi dasar pembahasan ini adalah ketidak “ko-eksistensinya” keimanan (agama) dengan prinsip rasionalitas. Justru, gagasan dengan prinsip rasional berlawanan dengan prinsip keimanan. Apakah ilmu dan keimanan tidak memiliki peran dalam menciptakan keharmonisan?
Pandangan Murtadha Muthahhari, dalam karyanya Falsafah Agama & Kemanusiaan yakni “ilmu memberikan kepada kita cahaya dan kekuatan sedangkan keimanan memberikan cinta”. Dengan ilmu membantu menciptakan peralatan untuk memenuhi kebutuhan manusia dan mempercepat laju kemajuan. Keimanan menetapkan tujuan usaha-usaha manusia sekaligus mengarahkan usaha tersebut. Ilmu pengetahuan itu indah, begitu pula keimanan. Ilmu mampu memperindah pikiran dan keimanan memperhalus perasaan. Dengan ilmu-ilmu yang dipelajari, manusia mampu mengetahui dirinya dan pencipta, memahami segala aspek kehidupannya dan mampu melindungi terhadap penyakit dan gejala alam (gempa bumi, badai, dll). Sedangkan keimanan mampu melindungi manusia terhadap keresahan, kesepian, rasa tidak aman dan pikiran picik.
Telah kita ketahui bahwa antara ilmu dan keimanan tidak ada pertentangan, justru korelasi keduanya saling mengisi dan menciptakan keharmonisan. Hal ini juga ditanggapi oleh Will Durant (penulis  History of Civilization), “Harta itu membosankan, nalar dan kebijaksanaan hanyalah cahaya redup yang dingin. Hanya dengan cintalah, kelembutan yang tidak terlukiskan dapat menghangatkan hati”. Baginya, ilmu seyogianya di dampingi oleh keimanan, begitupun sebaliknya. Pandangannya dapat ditafsirkan, bahwasanya Durant memandang ketika salah satunya tidak saling berdampingan maka akan ada kekosongan idealistis pada manusia sehingga tidak membuat manusia mengenal keindahan dan kearifan. Namun, problem ini dapat dipecahkan dengan sesuatu yang nonmaterial (keimanan) dan menggandrungi seni, sastra, musik, dapat mengisi sebuah kekosongan selama memiliki spiritualitas yang penuh kebajikan.






Komentar

Postingan Populer