Peringatan Hari Pendidikan Nasional : Halaman Lain Pendidikan
Halaman Lain
Pendidikan
Oleh: Muh. Nur Azis
Pendidikan pada hakikatnya berupaya
untuk mewariskan nilai yang akan menjadi penolong dan penentu umat manusia
dalam menjalani kehidupan, serta memperbaiki nasib dan peradaban umat. Dapat
disimpulkan bahwa terwujud tidaknya kesejahteraan suatu masyarakat atau bangsa,
akan ditentukan oleh bagaimana pendidikan yang dijalani oleh masyarakat
tersebut. Selain itu, pendidikan juga memiliki tanggung jawab untuk
mengembangkan rasa empati dan simpati kepada sesama manusia.
Pendidikan merupakan upaya untuk
mengentaskan kemiskinan. Selain itu
pendidikan juga upaya membuat kita mampu menjalani hidup dan berbudi
luhur demi mewujudkan masyarakat sejahtera. Keluarga adalah titik awal
pendidikan dimulai. Dari sana pandangan hidup pertama kali terbentuk yang
mengantar setiap orang menghadapi dunia yang sebenarnya. Maka dari itu peran
keluarga tidak boleh dipandang sebelah mata sebagai pranata terkecil sebuah
pendidikan. Dewasa
ini bekerja di perusahaan ternama atau mengejar profesi pencetak uang adalah
prestise yang menjamur dalam pandangan hidup sebagian besar keluarga di
Indonesia. Pandangan individualis yang menyebabkan setiap orang makin cenderung
eksklusif dan kompetitif. Pendidikan
tidak lagi dipandang sebagai peningkatan kualitas hidup yang berguna bagi nusa
dan bangsa. Salah satu penyebab terbentuknya pandangan tersebut karena biaya
pendidikan hingga jenjang tertinggi hanya bisa dijangkau oleh orang-orang yang
memiliki banyak uang. Lalu standar kualitas pendidikan pun diukur dengan uang. Semakin
tinggi biaya sekolah maka dianggap sekolah tersebut merupakan sekolah yang
berkualitas. Sekolah dengan biaya selangit menawarkan sejumlah fasilitas
penunjang yang mewah. Tentunya sangat menarik bagi para orang tua yang ingin
memberi segala yang terbaik bagi anak-anak mereka. Sehingga hanya siswa-siswa
kayalah yang sanggup mengenyam fasilitas sekolah mewah tersebut. Institusi
pendidikan yang demikian akan semakin membentuk eksklusifitas di kalangan
pergaulan atau lingkungan sosialnya. Sifat eksklusif tersebut justru
membahayakan bagi perkembangan anak di lingkungan sosial. Semisal orang tua
yang memanjakannya dengan fasilitas mewah seperti AC di ruang tidur atau shower dalam kamar mandi yang tersedia
dalam kamarnya. Tanpa memperlihatkan kenyataan lain dalam kehidupan ini seperti
tempat-tempat tinggal orang lain yang serba sederhana akan membentuk pengertian
anak bahwa rumah adalah tempat nyaman yang ia miliki sekarang. Hal tersebut
memberi ketergantungan bagi si anak sehingga anak yang dibiasakan eksklusif
akan sulit hidup dan berguna bagi masyarakat. Suatu saat jika si anak berada di
lingkungan lain tanpa fasilitas tersebut maka ia akan sulit untuk bertahan
tanpa fasilitas tersebut. Suatu waktu kelompok mahasiswa yang mengikuti program
pengabdian pada masyarakat yakni Kuliah Kerja Nyata (KKN) di sebuah desa. Lalu
ada seorang mahasiswi yang harus dibuatkan WC duduk karena tidak bisa buang
hajat dengan WC pada umumnya. Ada pula yang rela jauh-jauh membawa kipas angin
ke desa itu. Bagaimana mungkin ia akan berfikir untuk orang lain sedangkan
terlalu banyak energi yang ia habiskan untuk memikirkan diri sendiri. Sedangkan
ia sedang melakukan pengabdian pada masyarakat.
Oleh karena itu penting bagi orang tua
untuk mengenalkan dan membiasakan anak-anaknya pada kenyataan sosial. Mengingat
keluarga dan lingkungan merupakan tempat praktik kehidupan dan dari sana anak
dipersiapkan untuk menghadapi kehidupannya.
Di sisi lain keutamaan dari pendidikan
tentulah membina manusia menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya
dengan merangsang kepekaan sosial siswa di institusi pendidikan. Namun
institusi pendidikan di Indonesia hari ini justru mencipta para pekerja demi
kepentingan industri. Disiplin ditujukan untuk membentuk karakter patuh
sementara kurikulum dibuat dimaksudkan agar setiap siswa memiliki cara pikir
dan bertindak seragam.Ini bertujuan agar pendidikan disesuaikan dengan
kepentingan industri. Namun justru bertentangan dengan sifat alamiah manusia
yang beraneka ragam yakni kecenderungan, minat, bakat dan lain sebagainya. Perilaku
patuh tidak membuat daya pikir kritis siswa sedangkan penyeragaman akan
mematikan kebebasan berekspresi sesuai bakat dan minatnya. Terlebih lagi sedari
tingkat pendidikan dasar kita dipaksa mempelajari dan menguasai banyak
pelajaran lalu dituntut mendapat nilai sempurna dari setiap pelajaran tersebut
untuk mendapat peringkat kelas. Belum lagi orang tua menginginkan anak-anaknya
mendapat peringkat tersebut. Jika tidak maka kita adalah orang yang bodoh.
Pendidikan yang sungguh tidak membebaskan terlebih tidak melatih kita untuk
berfikir karena pengetahuan hanya dipatok pada buku-buku pelajaran sekolah. Dan
para siswa tidak terlatih untuk menemukan pengetahuan yang sebetulnya sungguh
melimpah di luar sana. Terlebih jika sejumlah perpustakaan sekolah hanya
menyediakan buku-buku pelajaran sesuai dengan kurikulum saja sementara banyak
buku yang dapat dikoleksi untuk menunjang pengetahuan siswa. Maka yang terjadi
ialah para siswa tidak dilatih untuk berfikir fokus terhadap pelajaran yang ia minati.
Sehingga mereka tidak bisa mengeksplorasi satu pelajaran dan menemukan sesuatu
yang berguna setidaknya penting bagi pengembangan diri mereka sendiri.
Kita patut mencontoh Jepang yang sudah
porak poranda namun sekarang menjadi negara maju. Tentu saja karena ia berhasil
membina sumber daya manusianya melalui pendidikan yang tidak eksklusif dan
berani membuka pengalaman untuk menunjang daya kreasi. Juga melatih setiap
siswa untuk fokus terhadap minat pengetahuannya. Sehingga mereka mampu
menciptakan berbagai perangkat teknologi maju nan kreatif.
Indonesia merupakan negara dengan
penduduk lebih dari dua juta jiwa. Seharusnya kita
punya banyak sumber daya manusia yang bisa mengentaskan berbagai persoalan
negara ini sehingga dapat menjadi negara maju. Jika itu sulit
dilakukan maka pertanyaannya Ada Apa
dengan Pendidikan?



Komentar
Posting Komentar