BUKU: Jangan Bakar Aku
Oleh,
Fenomena Pemberangusan Buku
Sejarah sepertinya berulang. Pemberangusan buku terjadi lagi pada
masa yang diklaim sebagai masa kebebasan dan penuh dengan gemerlap pengetahuan. Seakan tidak belajar dari masa lalu, pemberangusan buku ini dilegalkan oleh pemerintah. Alasannya, buku-buku ini berbahaya dan bertentangan dengan ideologi Indonesia,
yakni Pancasila.
Berawal dari
maraknya isu tentang kembali merebaknya PKI di tengah masyarakat, pemerintah
mengambil langkah tegas terkait isu tersebut dengan memberangus buku-buku yang
diduga menganut paham ‘kiri’, termasuk komunisme. Meski sudah berpuluh tahun
berlalu sejarah kelam komunis di Indonesia dan sudah memulai era baru,
bayang-bayang kemunculan gerakan-gerakan seperti komunisme masih tetap ada.
Pelarangan dan pemberangusan buku adalah salah satu cara menutup segala
penyaluran informasi tentang komunis dan sejarah kelamnya.
Mengapa Buku Kiri Diberangus?
Terminologi
‘kiri’ acapkali dikaitkan pada segala hal yang berusaha melakukan pembacaan
ulang atas situasi-situasi mapan atau dimapankan oleh kekuasaan dominan.
Menariknya, terminologi ini kemudian menjadi ‘hantu’ ketika ia dilabelkan pada
setiap pemikiran dan gerakan sosial yang mengusung simbol-simbol ‘revolusi’
sebagaimana Sosialisme, Marxisme, dan Komunisme. Apalagi ketika ia dikontekskan
pada suatu keadaan dimana terdapat ‘luka’ sejarah akibat komunisme, semisal
Indonesia. Sehingga menjadi wajar bila kesadaran masyarakat kita pernah
disesaki oleh ide-ide ‘pembumi-hangusan’ segala hal yang berbau kiri (dikutip dari buku Epistemilogi Kiri,
ListiyonoSantoso,dkk).
Pasca
berakhirnya Orde Lama yang peralihannya ditandai dengan peristiwa besar dalam
sejarah Indonesia, Gerakan 30 September, begitu menuai banyak kontroversi
hingga saat ini. Peristiwa berdarah yang memakan banyak korban jiwa dan memaksa
Indonesia mesti berbenah kembali termasuk penguatan ideologi bernegara kita,
Pancasila. Ide-ide pemberangusan buku itu kemudian muncul untuk ‘memotong’
sejarah agar generasi penerus tidak lagi mengenal dan bersentuhan dengan
sesuatu berbau komunisme.
Paham Kiri
Istilah ‘kiri’
seharusnya menjadi biasa dalam perbincangan kita. ‘Kiri’ adalah kebiasaan
sekaligus kesepakatan untuk membedakan dengan yang (sebelah) kanan. Tetapi,
terminologi ini menjadi luar biasa tatkala ia diendapkan pada dimensi
pemikiran. Tidak saja karena ia menyimpan sejumlah gagasan besar: menantang,
melawan sekaligus ‘merusak’ setiap tradisi yang dianggapnya ‘mapan’ (establishment), tetapi karena ia
memainkan peran signifikan atas munculnya ide-ide besar yang merubah keadaan.
Selama ini masyarakat Indonesia
terjebak pada konstruksi kesadaran yang salah kaprah, bahwa hasil pemikiran
yang ‘berbeda’ dengan arus utama atau mainstream
yang berkembang saat itu selalu dianggap sebagai model pemikiran ‘kiri’.
Parahnya, ‘kiri’ selalu diidentikkan dengan komunisme. Padahal, wacana
pemikiran ‘kiri’ adalah pemikiran dan gerakan sosial yang senantiasa melawan,
mengkritik, dan memang terkadang ‘nakal’ untuk menghancurkan segala hal yang
berbau mapan, terutama kemapanan kekuasaan otoriter dan juga kapitalisme modern
(dikutip dari buku Epistemologi Kiri, ListiyonoSantoso,dkk).
Kekhawatiran Berlebihan dan Kurangnya Percaya Diri
Bukanlah
sesuatu yang asing ditelinga maupun benak orang-orang yang terlibat langsung
sebagai saksi hidup sejarah atau generasi yang lahir setelahnya terkait
pergolakan komunis di negeri ini. Puncaknya meletus pada tahun 1965. Itu sudah
menjadi bagian sejarah bangsa. Berpuluh tahun sudah berlalu. Tidak ada ideologi
lain yang dianut dan diagungkan selain Pancasila. Bahkan Orde Baru pun telah
tiada. Tapi cerita-cerita seputar sejarah kelam komunisme tidak benar-benar
sirna. Kegelisahan tentang pengungkapan kebenaran peristiwa G30S/PKI, dahaga
para pemuda untuk belajar segala ilmu pengetahuan termasuk paham ‘kiri’, dan
keinginan menjaga sejarah peradaban Indonesia, mendorong hasrat para peneliti
sampai penulis untuk terjun menelusuri ‘jembatan’ sejarah yang sempat diputus.
Reformasi
adalah gerbang baru menuju kehidupan yang lebih baik. Era dimana kebebasan
bersuara, berpendapat, berekspresi diharapkan dapat tumbuh. Bahkan pemerintahan
meng-iya-kan tuntutan para penggerak Reformasi pada saat itu yang semakin gerah
dengan kehidupan yang penuh kekangan. Era yang digambarkan sebagai momentum
bangsa agar bisa sejajar dengan negara-negara lain yang sudah terlebih dahulu
menjadi negara maju.
Alur deras
pengetahuan pun sudah dikecap. Sesuai perkataan Bung Karno bahwa sebuah bangsa
yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya, maka manusia Indonesia
saat ini harus menghargai sejarahnya, tapi lebih penting pula adalah mengetahui
kebenaran dari sejarah tersebut. Ketika gerbang-gerbang kehidupan baru itu
terbuka, ternyata tidak serta merta menegaskan bahwa negeri ini telah siuman
dari stigma buruk terhadap paham kiri beserta sejarah peninggalannya.
Baru-baru ini
ramai di media sosial orang-orang yang menggunakan atribut yang diduga komunis.
Kejadian itu dengan cepat menjadi viral di masyarakat. Aparat bergerak cepat
merespon kabar tersebut. Menelusuri tiap sudut mencari para pelaku pengguna
atribut tersebut. Tertangkapnya para terduga tersebut tidak langsung membuat
isu hidupnya kembali PKI tersebut mereda. Meskipun tidak dikonfirmasi secara
pasti atas kebenaran bahwa orang-orang tersebut adalah pengikut PKI. Mencegah
informasi ‘luka lama’ itu meluas, pemerintah segera menutup akses semua bacaan
yang diduga menganut paham ‘kiri’.
Ada apa dengan
pemerintah di negara ini ?
Apakah
kebijakan pemberangusan buku yang diduga ‘kiri’ tersebut adalah langkah yang
tepat? Bukankah tindakan itu menjelaskan ketidakpercayaan diri setelah memilih
hidup di era yang baru? Apakah untuk belajar, orang-orang harus dibatasi
bacaannya? Bagaimana dengan mereka yang terlanjur mencintai dan saking
menghargai sejarahnya, mereka rela meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk
mencari tahu kebenaran sejarah bangsa sendiri?
Sejarah dan Esensi Buku
“Civis Romanus Sum!”—“Saya
Orang Romawi!”,kalimat yang menunjukkan kebanggaan orang Romawi pada masa kejayaan imperiumnya.
Pada masa kejayaan Romawi, buku merupakan salah satu harta terbesar di kala itu. Harta yang dapat dinikmati oleh khalayak umum di setiap perpustakaan yang
tersebar di seluruh penjuru
Roma. Banyaknya buku berkualitas yang berisi pemikiran-pemikiran maju dari Yunani dan Romawi sendiri, membuat peradabannya menjadi pijar pengetahuan.
Akan tetapi, kelebihan yang dimiliki Romawi, membuat penguasa lupa diri sehingga membuat peradabannya hancur. Inilah yang menjadi salah satu sebab munculnya zaman
kegelapan di penjuru Eropa. Pada saat itu, kebanyakan buku di hancurkan dan dibakar pada awal runtuhnya Romawi, sehingga buku tersisa begitu sedikit dan menjadi barang yang langka.
Bukan hanya Romawi, peradaban Islam
(baik di Andalusia maupun Baghdad) pun pernah unggul dengan beragam pengetahuannya. Perpustakaan dengan ribuan buku banyak didirikan pada masa kekhalifaan Bani Abbasiyah dan kekhalifahan di Andalusia. Banyak intelektual muslim yang lahir pada masa ini. Sebut saja Al-Kindi,
Al-Khawarismi Al-Farabi, Ibnu Sina,
Al-Ghazali, Ibnu Rusyd,
dkk. Namun, keruntuhannya menyebabkan banyaknya buku diberanguskan.
Peran buku tak lagi menjadi pertanyaan jika ia dalam dialektis ‘perkembangan peradaban’.
Keberadaannya mengiringi peradaban manusia. Kualitasnya juga menentukan kualitas manusia pada zamannya, baik penulis ataupun pembacanya. Lihat saja Inggris yang disematkan menjadi Negara dengan produksi buku terbanyak di dunia,
melahirkan James Watt penemu mesin uap, sebagai salah satu ilmuwan paling berpengaruh
di dunia. Juga rakyatnya bernama John B. Gourdon, Andre Geim,
Robert G. Edwards, sebagai peraih nobel.
Buku,
bukan sekedar lembaran dokumentasi ilmu pengetahuan dalam berlembar-lembar kertas, akan tetapi menjadi pemantik untuk pemikiran-pemikiran
yang lahir di masa depan. Ia adalah wadah curahan hasil pemikiran manusia. Keunggulannya adalah tentang ‘keabadiannya’. Tujuannya agar manusia mengetahui hakekatnya, atau melahirkan keharmonisan untuk seluruh elemen kehidupan. Kebodohan, tak bisa di pungkiri,
membuat manusia kadangkala salah dalam bertindak dan menerima kehidupan apa adanya. Perang,
kebencian, ketidakadilan adalah beberapa contoh dari dampak kebodohan
Buku sebagai Pemantik Peradaban
Kemajuan
manusia pada zamannya diwakilkan dari tulisan-tulisan yang dihasilkan pada masa
itu. Dengan kata lain, buku yang diterbitkan kepada khalayak tentunya
dipengaruhi pula oleh pemikiran-pemikiran yang ada. Bacaan mencerminkan
karakter manusia. Dalam Islam sendiri, sesuai wahyu pertama yang disampaikan
kepada Nabi Muhammad SAW, ‘iqra’ (bacalah), secara tidak langsung telah
mengantar umat Islam untuk mampu merefleksi ilmu pengetahuan kedalamtulisan dan
dibarengi kemampuan untuk membaca. Tidak ada alasan untuk tidak membaca. Untuk
memenuhi kebutuhan tersebut, buku adalah jawabannya. Apapun latar belakang dan
isinya, siapapun penulisnya, apapun genrenya, buku adalah pengantar manusia
menuju peradaban yang lebih bermartabat. Memberangus buku yang diduga berisi
paham-paham ‘kiri’ bukanlah solusi terbaik memperlakukan buku. Karena
bagaimanapun, buku adalah buah pemikiran penulisnya. Terlepas dari apa isinya.
Sekali lagi, buku itu cerminan manusia pada zamannya.
PUISI:
"Jangan Bakar Aku!"
(Fadly Fahry S. Wally)
Apa salahku tuan?
Apa aku membutakanmu tuan?
Apa halamanku tidak menarik?
Apa isiku tak lagi seksi?
Apa sampulku terlalu jadul?
Jawab aku tuan.
Tanganmu meng-ada-kanku
Kau ukir aku jadi jendela
Matamu lincah memerhatikanku
Kadang mulutmu ikut bersuara
Katamu aku gerbang dunia
Katamu aku lautan ide-ide di
kepala
Katamu aku saksi sejarah,
menjaganya
Katamu aku cerminan manusia
pada zamannya
Tapi mengapa tuan?
Apa berganti zaman, aku pula
harus ditiadakan?
Aku tak jahat tuan, tidak
Aku bahkan tidak mencuri apapun
darimu, kecuali waktu
Tapi tuan, waktu bahkan kau
beri untuk menikmati aku.
Aku beri diriku padamu tuan.
Aku mencintaimu.
Aku menyanyangimu.
Aku rela berdebu di almari
Aku rela lama ditinggal mati sunyi.
Tuan, ingatkah saat pertama
kita berkenalan?
Kau buka aku perlahan,
penasaran
Matamu berbinar, mukamu
bersinar
Itu pertemuan yang indah tuan
Lembut jemarimu membalik tiap
lembarku
Jantungku ikut berdebar, tuan.
Aku mencintaimu sejak saat itu.
Aku kira aku bisa terus
mendampingimu
Dan kau akan selalu
menikmatiku.
Tapi mengapa tuan?
Apa salah aku mencintaimu?
Apa gerbangku mulai karatan?
Apa di kepalamu, ide-ide di
lembarku mulai pudar?
Apa kau begitu curiga aku tak
mampu menjaga sejarahmu?
Apa manusia pada zamannya mulai
mengabaikanku?
Jawab aku tuan.
Kau boleh simpan aku di almari
Biar debu makan aku,
Kau boleh tinggalkan aku dalam
sunyi
Biar waktu merayapiku.
Tapi tuan,
JANGAN BAKAR AKU!




Komentar
Posting Komentar